Analisa

Selamat Tinggal Amerika! Selamat Datang Tatanan Dunia Baru

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM Pertemuan tripartit para kepala dari tiga negara penjamin proses perdamaian Astana, yaitu Iran, Rusia dan Turki, di Teheran, sangat menunjukkan bobot politik aktor regional dan trans-regional sehubungan dengan arsitektur keamanan baru Asia Barat. Karena itu terjadi hanya beberapa hari setelah kunjungan pertama Presiden AS Joe Biden ke kawasan.

Surat kabar Israel Haaretz bahkan menulis dalam sebuah analisis yang diterbitkan pada 14 Juli bahwa “Pemimpin Tertinggi Iran Akan Menentukan apakah Perjalanan Biden di Timur Tengah Berhasil.”

BACA JUGA:

Meskipun Biden mengatakan kepada para pemimpin enam negara Dewan Kerjasama Teluk Persia (GCC) yaitu Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman dan Uni Emirat Arab, ditambah Yordania, Mesir, dan Irak pada pertemuan puncak di kota Laut Merah Arab Saudi, Jeddah, pada hari Sabtu minggu lalu, bahwa Amerika Serikat “tidak akan pergi” dari Timur Tengah dan membiarkan kekosongan itu diisi oleh Rusia, China atau Iran, hampir tidak ada seorangpun di kawasan yang menerima retorika seperti itu sebagai benar.

Selamat Tinggal Amerika! Selamat Datang Tatanan Dunia Baru

Putin dan Raisi

Negara-negara Arab di kawasan Teluk Persia dan aktor Asia Barat memantau dengan cermat perkembangan yang terjadi di Afghanistan dan Ukraina, di samping perilaku Amerika terhadap mereka.

Ini menjelaskan mengapa aktor regional telah menetapkan realisme tinggi dalam agenda mereka, dan negara-negara Arab tidak benar-benar ingin menaruh semua telur mereka di keranjang Washington yang lemah, dan malah mengikuti kebijakan détente dan kerjasama dengan Iran, dengan pada saat yang sama menjaga hubungan baik dengan Rusia dan China.

Jelas bahwa Teheran dan mitranya telah meraih pencapaian signifikan melawan Washington dari pertemuan puncak ketujuh pembicaraan damai Astana di Suriah, yang menjamu Vladimir Putin dari Rusia dan Recep Tayyip Erdogan dari Turki.

Suriah adalah contoh nyata dari kemenangan aliansi ini atas Amerika Serikat dan sekutu Baratnya. Dan prakarsa Rusia-Iran-Suriah sekarang menentukan jalan yang harus ditempuh oleh pemerintah Damaskus.

Konflik Suriah adalah salah satu model kerjasama yang paling sukses antara Iran dan Rusia dalam hal kebijakan luar negeri. Krisis besar di Suriah menciptakan persepsi di antara para pejabat Rusia bahwa Moskow harus mementingkan sudut pandang Teheran sehubungan dengan perhitungannya di Timur Tengah.

BACA JUGA:

Pecahnya krisis Suriah pada Maret 2011 awalnya mempersulit Teheran untuk membuat keputusan penting, tetapi Republik Islam bersiap setelah beberapa saat untuk meningkatkan nilai strategisnya di kawasan.

Rusia, pada bagiannya, pada awalnya mengambil sikap acuh tak acuh dan tidak responsif, dan di bawah pengaruh pandangan dan tekanan Barat bahkan mempertimbangkan penggulingan Presiden Bashar al-Assad untuk menyelamatkan Suriah.

Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian menulis dalam bukunya “The Levant Morning” bahwa dirinya, sebagai mantan wakil menteri luar negeri untuk Urusan Arab dan Afrika, memulai negosiasi dengan otoritas Rusia mengenai keterlibatan mereka di Suriah, disaat hubungan antara Teheran dan Moskow agak mengendur.

Amir-Abdollahian melanjutkan dengan mengutip bahwa duta besar Rusia untuk Iran saat itu mengatakan bahwa pembicaraan tentang Suriah bertindak sebagai katalis untuk mempromosikan hubungan diplomatik bilateral antara Moskow dan Teheran, dan membuka babak baru untuk kerja sama timbal balik.

Diplomat top Iran itu lebih lanjut menyinggung komentar yang dibuat oleh seorang pejabat keamanan Rusia bahwa Moskow akhirnya menyimpulkan bahwa Iran yang telah sangat mendukung sekutu mereka di kawasan selama bertahun-tahun, tidak mengubah pendekatan bahkan dalam menghadapi kampanye besar (tekanan) AS, dan bahwa Iranlah dan sekutunya yang telah memainkan peran penting dalam pembangunan kawasan, dan pada akhirnya memperoleh hasil yang dapat diterima.

BACA JUGA:

“Dengan memeriksa perilaku Iran di Afghanistan, Irak, Lebanon dan Palestina, kami sampai pada kesimpulan bahwa Bashar Assad akan tetap menjabat, dan Teheran pada akhirnya mendapatkan jalannya sendiri,” kata pejabat Rusia itu.

Agenda utama proses Astana terletak pada “penyediaan dukungan dan perlindungan integritas teritorial Suriah,” “memerangi terorisme,” dan “penyediaan dukungan untuk pembentukan gencatan senjata.”

Selama beberapa minggu terakhir, spekulasi dan berita terpenting dalam hal ini adalah prospek operasi Turki melawan Kurdi di Suriah utara, beberapa spekulasi mengenai pengurangan kehadiran militer Rusia di Suriah dan peningkatan simultan dalam bobot poros perlawanan di sana, serta kekhawatiran intens rezim Israel tentang hal ini, dan ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hubungan Moskow-Tel Aviv. Bagaimanapun, sudah dapat diperkirakan bahwa Vladimir Putin akan mengadakan pertemuan penting dengan para pejabat senior Iran, terutama mengingat fakta bahwa aspek kerja sama militer kedua negara telah memicu kekhawatiran dan kemarahan di Gedung Putih.

Bahkan situs web The Washington Free Beacon yang berafiliasi dengan gerakan neo-konservatif AS mengumumkan bahwa Iran, Rusia, dan China akan mengadakan latihan militer trilateral di Amerika Latin pada pertengahan Agustus dengan nama “Perbatasan Penembak Jitu” dalam “ unjuk kekuatan” melawan Amerika Serikat.

Latihan tersebut akan diselenggarakan oleh Venezuela, tambah situs web tersebut, yang mengatakan bahwa tentara Iran, Rusia, dan China bertujuan untuk menuju ke Karibia dengan melakukan maneuver tersebut. Situs web itu menulis, “Latihan perang ini adalah salah satu tanda paling mencolok [pembentukan] koalisi rezim anti-AS Amerika Latin hingga saat ini….”

Menyikapi masalah jadwal Putin di Iran, ajudan presiden Federasi Rusia itu mengatakan negaranya sedang berusaha untuk meningkatkan tingkat hubungannya dengan Iran menjadi “kemitraan strategis.”

Sebelum Yuri Ushakov, Sergei Lavrov juga mengatakan bahwa pekerjaan sedang berlangsung pada kesepakatan besar yang telah diusulkan oleh presiden Republik Islam. Teheran dan Moskow sedang melihat area kepentingan bersama yang luas, yang merupakan pendorong untuk membuat kedua negara memasuki tingkat hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang luar biasa.

Iran dan Rusia berbagi perspektif yang sama mengenai sanksi yang telah dijatuhkan Amerika Serikat terhadap kedua negara, perjanjian nuklir Iran, revisionisme dalam tatanan saat ini, dan unilateralisme internasional.

Perspektif bersama ini membuka jalan bagi kerja sama kedua negara tersebut. [Kesamaan] bidang-bidang ini sangat penting dalam penilaian aparat kebijakan luar negeri Kremlin yang telah membuat Putin bertemu dengan presiden Iran pada tiga kesempatan di Moskow, Ashgabat, dan Teheran selama enam bulan terakhir.

BACA JUGA:

Persetujuan Moskow atas keanggotaan Iran dalam Organisasi Kerjasama Shanghai, dan suara negatifnya terhadap resolusi anti-Iran di Dewan Gubernur Organisasi Energi Atom Internasional dapat ditafsirkan dan dianalisis dengan cara yang sama. Moskow bahkan menilai Iran sebagai negara yang cukup kompeten untuk bergabung dengan grup BRICS.

Oposisi terhadap perluasan NATO, yang memiliki beberapa keinginan untuk membangun kehadiran di kawasan Asia Tengah, dan juga bahaya kebangkitan Daesh di Afghanistan, sesuatu yang akan mengancam perbatasan Iran dan Rusia, adalah di antara area kesamaan lainnya antara Moskow dan Rusia hari ini, yang dapat membuka jalan bagi bidang kerja sama baru.

Selama sebulan terakhir, para pemimpin negara-negara Asia Tengah, termasuk Tajikistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan, telah melakukan perjalanan ke Iran dan menandatangani banyak perjanjian bilateral hingga titik dimana bahkan telah meresmikan pabrik pembuatan UAV di Tajikistan.

Ini adalah indeks yang membuktikan bahwa Rusia menganggap Iran memiliki peran khusus dan sedang mengincar untuk berkubu dan memperkuat pijakan Iran di kawasan, untuk menghilangkan ancaman-ancaman tersebut diatas, sebagai bagian dari berkas Asia Tengah dan Kaukasus Selatan, yang oleh para ahli teori hubungan internasional ditekankan [dalam diskusi yang] menyangkut transisi dalam tatanan dunia dari Atlantik ke Pasifik. Dimana dari sudut pandang Moskow, kehadiran dan permainan peran Turki dan Azerbaijan, yang dapat mengubah Kaukasus menjadi pintu masuk NATO, merupakan sumber keprihatinan. (ARN)

Sumber: PressTV

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: