Artikel

Tulisan Pedas Dahono: ACT Bukalah Topengmu

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMTulisan pedas pegiat medsos Dahono Prasetyo yang membongkar  kedok busuk lembaga donasi Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Menurut Dahono ada ratusan lembaga donasi. Ada yang kredibel ada pula yang abel-abel (baca: abal-abal). Semuanya sama bermodal slogan dan kata-kata manis demi menarik simpati masyarakat yang ikhlas menyalurkan sebagian hartanya.

Status petinggi lembaga donasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) tidak dipungkiri menegaskan kekecewaan publik atas egoisnya manajemen lembaga sosial terbesar beromset ratusan milyar. Ahyudin dan Ibnu Khajar menjadi otak penyelewengan kepercayaan dana sumbangan, menerima status tersangka sudah diprediksi jauh hari.

Tulisan Pedas Dahono: ACT Bukalah Topengmu

Gaji Petinggi ACT foto @Kumparan

BACA JUGA:

Persoalan etika moral pelanggaran hukum butuh pembuktian di pengadilan. Tetapi penyematan status tersangka dengan bukti dan saksi menjadikan ACT “telanjang” di depan jamaahnya. Bagi yang tidak percaya Indonesia negara hukum, sah-sah saja menganggap pemerintah dzolim pada ACT, fitnah pada umat, atau Islamphobia. Sebagaimana mereka tidak percaya undang-undang buatan pemerintah yang dianggap thogut. Sementara mereka hidup, mengais nafkah, bercengkerama dan beranak pinak di negeri yang dibencinya.

Penyelewengan dana tetap sebuah pelanggaran hukum, kecuali dana asalnya dari kantong sendiri. Bagaimana mau ber-slogan kebaikan dan kemanusiaan ketika ACT sengaja “Ngerjain” kepedulian pengikutnya sendiri? Bagaimana pula mau memerangi kemiskinan kalau mereka hidup kaya raya dari menjual kemiskinan?.

BACA JUGA:

Bagaimana kalau kemudian kita balik, jika di persidangan Ahyudin dan Ibnu Khajar dinyatakan sah bersalah lalu dimiskinkan hartanya. Lalu kita buat donasi sumbangan dengan hastaq #saveahyudin #saveibnukhajar. Buat kalimat sedramatis mungkin “Lihatlah penderitaan mereka berdua yang teraniaya. Saudara kita seiman yang kurus kering dan terancam kelaparan. Salurkan donasi anda melalui rekening di bawah ini”.

Kita berdayakan penderitaan mereka sebagaimana mereka pernah memperdaya penderitaan umat sebelumnya. Sedikit naif tapi itulah yang mereka lakukan selama ini.

Ini jaman dimana lembaga donasi bisa menjadi support sistem logistik untuk kepentingan tertentu. Pupuk perlawanan pada kemapanan yang sudah disepakati bersama. ACT yang cerdas strategi penambahan, perkalian, pengurangan namun buruk soal pembagian kepada yang berhak. Inikah kerja profesional yang dimaksud?.

Dalih kerjasama bantuan kepada 1000 warteg yang disinyalir kreatifitas penipuan paling halus. Sumbangan ratusan milyar dari Boeing yang diselewengkan untuk gaji pegawai ACT itu kebohongan yang lumayan menjengkelkan. Kisruh potongan hasil sumbangan untuk Surau di Sydney itu manipulasi paling menyakitkan. Belum lagi deretan amburadul penyaluran lain yang tidak sempat terungkap.

BACA JUGA:

Geger ACT muncul GMC dengan petinggi yang itu-itu juga. ACT yang sudah dibobrokkan oleh pengurusnya sendiri, bermutasi menjadi nama anyar demi menggaet simpati baru meski tidak menjamin akan terlepas dari kebobrokan juga. Lalu apakah kemudian kita masih percaya lembaga donasi? Apapun keburukannya tetap harus percaya karena memberi itu karena niat, bukan sebab bujuk rayu slogan, spanduk, iklan yang bertebaran menagih kelebihan rejeki kita. Gitu kan?. (ARN)

Penulis: Dahono Prasetyo

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: