Eropa

2 Minggu Sebelum insiden, Salman Rushdie Klaim Hidupnya sudah “Normal” Lagi

Inggris, ARRAHMAHNEWS.COM Salman Rushdie mengatakan bahwa ia percaya hidupnya sudah “sangat normal lagi” dan bahwa ketakutan akan serangan adalah sesuatu dari masa lalu, dalam sebuah wawancara hanya hanya dua minggu sebelum dia ditikam di atas sebuah panggung di New York pada Jumat kemarin.

Novelis pelaku penghinaan terhadap Nabi Muhammad itu ditikam beberapa kali, termasuk di leher dan perut. Agennya, Andrew Wylie, mengatakan bahwa hatinya telah rusak dan kemungkinan ia akan kehilangan sebelah matanya.

BACA JUGA:

Terduga penyerangnya, Hadi Matar yang berusia 24 tahun, telah didakwa dengan percobaan pembunuhan dan penyerangan.

2 Minggu Sebelum insiden, Salman Rushdie Klaim Hidupnya sudah “Normal” Lagi

Salman Rushdie

Rushdie, 75 tahun, berbicara di sebuah festival sastra di Chautauqua Institution di negara bagian New York barat tentang pentingnya Amerika memberikan suaka kepada penulis yang diasingkan ketika dirinya diserang.

Rushdie telah berada di bawah fatwa yang menyerukan kematiannya sejak 1989, ketika mendiang pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkannya sebagai tanggapan atas novel kontroversial penulis kelahiran India itu, The Satanic Verses, yang telah menghina agama Islam dan Nabi Muhammad saww.

 

Baru dua minggu yang lalu, Rushdie berbicara dengan majalah berita Jerman Stern tentang keselamatannya. Penulis itu mengatakan hidupnya akan jauh lebih berbahaya jika media sosial ada pada saat dia menulis The Satanic Verses: “Lebih berbahaya, jauh lebih berbahaya”.

“Fatwa adalah hal yang serius. Untungnya kita tidak memiliki internet saat itu. Iran telah mengirim fatwa ke masjid-masjid melalui faks. Itu semua sudah lama sekali. Saat ini hidup saya sangat normal kembali,” katanya.

Keluarnya Fatwa Kematian untuk Rushdie

Fatwa kematian untuknya datang dari novel keempatnya, The Satanic Verses, yang terbit pada September 1988.

BACA JUGA:

The Satanic Verses, buku karangan Rushdie yang oleh Rushdie dikatakan merupakan novel fiksi sejarah, telah menghina Nabi Muhammad dengan menggambarkan bahwa Nabi menerima ayat-ayat dari setan.

Salah satu karakter utama di buku itu, Gibreel Farishta, digambarkan mengalami beberapa kali mimpi di mana ia menjadi malaikat Gibreel (terbaca Jibril). Di dalam mimpi, ia bertemu dengan karakter sental lain yang bagi umat Islam dengan mudah ditafsirkan sebagai personifikasi Muhammad. Rushdie pun memilih nama karakter Mahound, yang hampir terdengar seperti “Muhammad”.

Sejarah mencatat “Mahound” adalah nama panggilan alternatif yang kadang digunakan sejumlah orang Kristen pada Abad Pertengahan. Orang-orang Kristen ini menganggap Muhammad sebagai perwujudan setan.

Ada banyak bagian lain dalam novel yang dengan mudah ditafsirkan sebagai potongan sejarah Nabi Muhammad. Judul novel, misalnya, dia ambil dari isi buku di mana tokoh utama (yang dipersonifikasikan sebagai Nabi Muhammad) mengucap beberapa ayat yang seharusnya jadi bagian dalam Al-Qur’an dan kemudian ditarik dengan alasan sumber ayat ternyata bukan dari Allah, tapi dari setan.

Buku itu segera memancing reaksi kemarahan dari komunitas Muslim di berbagai negara. Rushdie, melalui The Satanic Verses, dianggap telah menghina Muhammad dengan dalih kebebasan berbicara.

Pelarian Rushdie

Viking Penguin, penerbit pertama buku ini, diminta untuk menghentikan proses distribusi novel. Impor buku dilarang di India sebulan setelah The Satanic Verses terbit. Pelarangan buku kemudian menyebar ke berbagai negara, terutama yang mayoritas muslim seperti Bangladesh, Sudan, Sri Lanka, hingga ke Indonesia.

Demonstrasi anti-Rushdie merebak di mana-mana. Beberapa ada yang berakhir ricuh dan menimbulkan rusaknya fasilitas umum. Muncul insiden penyerangan terhadap orang-orang yang menerjemahkan buku, juga ke rumah-rumah penerbit, sampai timbul korban jiwa.

Kondisi ini memaksa Rushdie untuk bersembunyi dan mendapat perlindungan dari pemerintahan Inggris. Kehidupannya berubah drastis. Ia mendapat pengawalan khusus tiap kali berada di luar rumah.

Rushdie pun lebih banyak memakai nama samaran. Eskalasi ancaman makin tinggi kala Imam Khomeini memfatwa mati Rushdie pada 14 Februari 1989. Imam Khomeini memproklamasikannya melalui Radio Tehran. Sejak saat itu terkumpul uang dalam jumlah besar bagi siapa saja yang bisa mengeksekusi Rushdie.

Bagaimanapun pasca mendapat perlindungan dan dukungan dari Barat, Rushdie menulis untuk New Yorker, bahwa Ia tidak pernah menyesal telah menulis The Satanic Verses. (ARN)

Sumber: TheGuardian

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: