Arab Saudi

Tuntutan Tak Dipenuhi, Yaman Ancam Serang Fasilitas Minyak UEA-Saudi

Yaman, ARRAHMAHNEWS.COM Seorang anggota senior Ansarullah Yaman mengatakan angkatan bersenjata negara itu akan menargetkan fasilitas minyak jauh di dalam Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) jika hak-hak rakyat Yaman tidak terpenuhi.

“Berbicara pada sebuah wawancara dengan jaringan televisi Al-Mayadeen Lebanon pada hari Rabu, Mohammed al-Bukhaiti,” anggota biro politik Ansarullah, mengatakan bahwa rakyat Yaman memiliki tuntutan yang sah, memperingatkan bahwa pasukan tentara Yaman “memiliki kemampuan untuk menargetkan instalasi minyak Arab Saudi dan UEA, jika tuntutan itu tidak dipenuhi.”

BACA JUGA:

Sebelumnya pada hari yang sama, juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigadir Jenderal Yahya Saree juga memperingatkan perusahaan asing yang beroperasi di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk segera meninggalkan kedua negara Teluk Persia tersebut setelah gencatan senjata yang ditengahi PBB berakhir tanpa kesepakatan.

Tuntutan Tak Dipenuhi, Yaman Ancam Serang Fasilitas Minyak UEA-Saudi

Konflik Yaman

Dalam sebuah posting di akun Twitter-nya, Saree memperbarui peringatan bagi perusahaan asing yang ditempatkan di dua negara agresor itu untuk memindahkan operasi mereka ke negara lain yang “kurang berisiko” untuk mencegah “kerugian lebih lanjut.”

“Kalian harus mentransfer investasi kalian dari negara agresor ke negara yang kurang berisiko untuk mencegah kerugian lebih lanjut. Contoh negara seperti itu termasuk UAE dan Arab Saudi,” tulisnya.

Sebelumnya, Sare’e telah mengatakan bahwa peringatan itu akan tetap berlaku selama negara-koalisi agresi Amerika-Saudi tidak berkomitmen pada gencatan senjata yang memberi hak kepada rakyat Yaman guna mengeksploitasi kekayaan minyak mereka guna membayar gaji karyawan.”

Gencatan senjata periode pertama dimulai pada 2 April untuk jangka waktu 2 bulan, dan diperbarui dua kali.

Dalam sebuah pernyataan, Utusan PBB untuk Yaman Hans Grundberg meminta semua pihak Yaman untuk menahan diri dari tindakan provokasi saat negosiasi berlanjut, setelah batas waktu 2 Oktober untuk memperpanjang gencatan senjata yang ditengahi PBB itu berakhir. (ARN)

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: