arrahmahnews

Tanggapi Ancaman Israel, Hizbullah: Kami Siap Untuk Semua Kemungkinan

Lebanon, ARRAHMAHNEWS.COM Rezim Israel hanya memahami bahasa kekerasan. Seorang pejabat tinggi gerakan perlawanan Lebanon Hizbullah mengatakannya saat mengungkap kesiapan gerakan itu untuk “semua kemungkinan” dalam menghadapi ancaman entitas pendudukan.

Jaringan berita Al-Manar Lebanon melaporkan bahwa Wakil Presiden Dewan Eksekutif Hizbullah, Sheikh Ali Damoush, mengatakan ancaman Israel terhadap Lebanon tidak ada artinya dalam menghadapi perlawanan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

BACA JUGA:

“Kami yakin pada diri kami sendiri dan pada kekuatan kami dan kami siap untuk semua kemungkinan,” kata Sheikh Damoush. “Tidak mungkin bagi kami untuk tetap diam terkait hak-hak kami.”

Tanggapi Ancaman Israel, Hizbullah: Kami Siap Untuk Semua Kemungkinan

Hassan Nasrallah, Lebanon

Ketegangan meningkat antara Israel dan Lebanon di tengah kemunduran dalam negosiasi perbatasan laut.

Menurut sumber utama Israel, Perdana Menteri Israel Yair Lapid pada hari Kamis menolak amandemen yang diusulkan Lebanon untuk perjanjian yang dirancang AS guna menyelesaikan sengketa perbatasan maritim yang sudah lama terjadi atas dua ladang gas alam lepas pantai.

“Jika Hizbullah atau pihak lain mencoba membahayakan [lading] Karish atau mengancam kami, negosiasi di jalur maritim akan segera dihentikan,” lapor media Israel mengutip sumber tersebut.

Kemudian pada Hari yang sama, menteri urusan militer Israel, Benny Gantz, memerintahkan kesiapan militer Israel untuk kemungkinan perang dengan Hizbullah di wilayah utara wilayah pendudukan.

Gantz mengarahkan militer Israel untuk “mempersiapkan skenario eskalasi di utara, baik secara ofensif maupun defensif, mengingat perkembangan dalam negosiasi di perbatasan maritim,” kata kementerian urusan militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Menanggapi perkembangan tersebut, Sheikh Damoush menyatakan bahwa rezim Israel tidak memahami bahasa diplomasi dan hanya mengakui logika kekuatan.

BACA JUGA:

“Musuh tidak mengerti bahasa diplomasi, dan siapa pun yang berpikir bahwa musuh dapat mengakui hak Lebanon melalui logika negosiasi saja adalah salah,” tegasnya. “Musuh hanya memahami logika kekuatan, dan inilah yang telah dibuktikan oleh semua pengalaman masa lalu.”

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa posisi Lebanon bersatu berlandaskan perlawanan menyebabkan Israel berada dalam “keadaan kebingungan yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan itulah sebabnya rezim itu sekali lagi menggunakan bahasa ancaman dan intimidasi.

Surat kabar Israel Israel Hayom melaporkan pada hari Jumat bahwa rezim di Tel Aviv berencana untuk mengaktifkan sumur gas Karish dan akan mulai beroperasi secara eksperimental sebelum ekstraksi gas resmi dimulai.

Sementara itu, awal pekan ini, harian Lebanon Al-Akhbar melaporkan dengan mengutip pejabat pemerintah yang tidak disebutkan Namanya, bahwa Lebanon tidak akan mengakui perbatasan Israel yang ditempatkan secara sepihak pada tahun 2000.

Lebanon juga membalikkan permintaan untuk demarkasi perbatasan darat dan ingin masalah itu diserahkan ke PBB untuk didiskusikan. (ARN)

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: