arrahmahnews

Kronologi Ormas di Tangerang Geruduk Rumah Warga Bawa SARA

Tangerang, ARRAHMAHNEWS.COMKronologi sekelompok anggota ormas berpakaian serba hitam mendatangi Perum Taman Jaya, Cipondoh, Kota Tangerang. Mereka menimbulkan keresahan karena hendak menyerang warga etnis tertentu.

Penggerudukan ormas ke Perum Taman Jaya, Cipondoh, terjadi pada hari Selasa (11/10) malam. Polisi pada malam itu langsung membubarkan ormas yang hendak menyerang warga etnis tersebut.

BACA JUGA:

Tidak ada korban jiwa atau pun kerusakan materi dalam kejadian ini. Tiga orang anggota ormas yang menyebarkan video provokasi ditangkap polisi. Berikut duduk perkara kasus tersebut.

Kronologi Ormas di Tangerang Geruduk Rumah Warga Bawa SARA

Ormas

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Zain Dwi Nugroho menjelaskan peristiwa itu terjadi pada Selasa (11/10) malam. Insiden ini diawali adanya dugaan percekcokan antara penasihat ormas dengan pihak warga di Perum Taman Jaya.

“Mulanya H Suyatno (selaku Ketua RW 11) menyuruh Mustofa, sekuriti kompleks, untuk mengawal tukang las memperbaiki pintu yang terkena cor beton jalan perbatasan Perum Taman Jaya dengan Kampung Poris (pinggiran kompleks) RT 05/10 Cipondoh Makmur, Cipondoh, Kota Tangerang,” jelas Zain, saat dihubungi detikcom, Sabtu (15/10/2022).

Saat tukang las sedang bekerja, datanglah SC, warga Kampung Poris yang juga penasihat ormas di Cipondoh. SC kemudian meminta tukang las untuk berhenti melakukan pekerjaannya.

“Dengan alasan pengecoran dilakukan oleh SC, namun Mustofa tidak terima, karena itu perintah langsung dari Ketua RW setempat,” ungkapnya.

Hal ini kemudian menimbulkan ketegangan antara SC dan Mustofa. Percekcokan semakin panas manakala SC berusaha memancing emosi Mustofa dengan mendekatkan kepalanya.

“Saudara SC berusaha memanas-manasi Saudara Mustofa dengan memancing/mendekatkan kepalanya ke kepala Saudara Mustofa (tetapi Saudara Mustofa tidak meladeni Saudara SC). Selanjutnya diduga SC mendorong Mustofa sehingga mengakibatkan Mustofa jatuh tersungkur ke tanah,” jelasnya.

Kejadian ini kemudian dilihat oleh Ibu SN dan Ibu J, warga Taman Jaya. Ibu J kemudian hendak merekam video itu.

BACA JUGA:

“Saat itu Ibu J mau memvideokan kejadian tersebut, diduga langsung ditendang oleh SC, sehingga mengakibatkan ibu J terpental ke belakang mengenai Ibu SN dan mengakibatkan keduanya terjatuh ke tanah,” ujarnya.

Suami kedua ibu-ibu itu datang dengan beberapa orang. Tak terima istri mereka diperlakukan demikian oleh SC, sehingga terjadilah perkelahian.

“Selanjutnya para suami tersebut langsung saling memukuli SC,” katanya.

Kejadian ini didengar oleh anggota ormas. Anggota ormas kemudian menyebarkan berita menyangkut SC ini ke grup WA.

“Permasalahan tersebut didengar oleh anggota ormas mengingat SC merupakan penasihat ranting ormas tersebut di Cipondoh, dengan share berita oleh D ke grup WA ormas tertentu,” katanya.

Berita yang tersebar di grup WhatsApp ini kemudian memantik emosi para anggota ormas lainnya. Mereka kemudian mendatangi Perum Taman Jaya untuk mencari orang-orang yang disebutnya telah mengeroyok penasihat ranting ormas atau si SC.

Video anggota ormas yang disebar ke grup WhatsApp itu memuat ajakan untuk menyerang warga etnis. Video ini tersebar di media sosial.

BACA JUGA:

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah pria berseragam hitam tengah berkumpul di Cipondoh Makmur, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, pada Selasa (11/10), sekitar pukul 22.27 WIB. Dalam video tersebut, mereka menyatakan hendak menyerang etnis tertentu.

“Ngumpulkan anak di TKB siap siaga, perang terus,” ujar pria perekam video.

‘Hitamkan!” sambut pria lain.

“Udah di lokasi nih untuk nyerang C****, biar C**** pada kapok. Jangan pada belagu di kampung kita. Masa kita dibilang ormas bayaran sama orang C****, kan b****** itu namanya,” tutur pria perekam video.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Zain Dwi Nugroho mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti rekaman video viral tersebut. Tiga tersangka telah ditangkap oleh pihak kepolisian.

“Sudah kami amankan tiga orang tersangka terkait video SARA tersebut,” ujar Zain dalam keterangan kepada detikcom, Sabtu (15/10/2022).

Ketiga tersangka adalah:

1. D alias Ocin (38), berperan merekam video.

2. MA alias Bule (46), berperan mengajak anggota ormas untuk datangi lokasi via WhatsApp grup.

3. SZ alias Kumis (55), meminjamkan HP kepada tersangka D alias Ocin untuk merekam video yang beredar.

Zain mengatakan aksi ormas tersebut telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Mereka juga telah menyebarkan kebencian terhadap etnis tertentu, sehingga pihak kepolisian bergerak cepat menindaklanjutinya.

“Dengan beredarnya rekaman video yang berisi rasa kebencian tersebut di media sosial secara cepat telah menimbulkan keresahan dan ketakutan masyarakat etnis tertentu yang disebutkan dalam video tersebut dan telah menjadi perhatian publik karena dapat berpotensi dapat memecah belah persatuan kesatuan bangsa yang selama ini hidup rukun di tengah keberagaman di Indonesia, khususnya di Kota Tangerang,” jelas Zain.

Atas kejadian ini, seorang warga berinisial EL yang merasa terganggu kemudian melapor ke polisi pada Kamis (13/10). Selanjutnya, polisi menangkap ketiga tersangka pada Jumat (14/10).

“Saat ini para tersangka sudah kami tahan di Polres Metro Tangerang Kota,” imbuhnya.

Para tersangka dijerat dengan Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45 A ayat (2) Undang-undang RI No. 19 Tahun 2016, tentang perubahan atas Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2008, tentang Informasi Transaksi Elektronik dan atau Pasal 4 huruf b angka 2 Jo pasal 16 UU RI No. 40 Tahun 2008, Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis Jo Pasal 55 KUHP, dengan ancaman penjara 6 tahun.

Zain mengimbau kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dengan beredarnya video tersebut. Masyarakat diminta tidak melakukan tindakan yang memperkeruh suasana dan berpotensi menimbulkan pidana baru.

“Percayakan terhadap penanganan perkara yang dilaporkan masyarakat kepada Polri, jangan menyikapinya dengan berlebihan apalagi pengerahan massa. Jangan mudah membuat video yang memuat rasa kebencian atau rasa permusuhan, karena akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa,” tutur Zain. (ARN)

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: