arrahmahnews

Skandal Inggris dalam Ledakan Pipa Nord Stream

Inggris, ARRAHMAHNEWS.COM Pasca ledakan pipa gas Nord Stream 1 dan 2 di bawah Laut Baltik pada 26 September, negara-negara seperti Ukraina, Rusia, Polandia, Denmark, Swedia, dan Amerika Serikat menjadi terduga biang keladi insiden ini. Namun, menurut kementerian pertahanan Rusia, penyelidikan baru menunjukkan bahwa Inggris berada di balik sabotase, yang diperkirakan akan merusak hubungan antara Uni Eropa dan Inggris tersebut.

Berlanjutnya konflik Ukraina mendorong perang ekonomi Barat melawan Rusia ke babak baru, termasuk sabotase jaringan pipa transfer gas.

BACA JUGA:

Ledakan itu tampaknya merupakan operasi militer yang rumit oleh beberapa pemain. Seismolog Swedia memperkirakan bahwa sekitar 700 kilogram TNT digunakan untuk menghancurkan dua pipa, yang diletakkan di kedalaman 60 meter dibawah laut itu.

Skandal Inggris dalam Ledakan Pipa Nord Stream

Ledakan pipa gas Nord Stream

Pihak berwenang Rusia mengatakan bahwa ledakan tebut adalah serangan teroris. Dmitry Peskov, Sekretaris Pers Presiden Federasi Rusia, mengatakan rilis nama-nama pelaku serangan akan mengejutkan negara-negara Eropa.

Beberapa pejabat Eropa dan media berpendapat bahwa Ukraina atau pendukung mereka melakukan serangan, sementara Kyiv mengumumkan bahwa kebocoran gas tidak lain adalah serangan teroris yang direncanakan oleh Rusia terhadap Uni Eropa.

Beberapa lainnya berspekulasi bahwa AS berada di balik sabotase, dengan alasan bahwa Amerika tidak melakukan serangan tanpa lampu hijau Jerman.

Situs web analitis Cradle menuding Polandia. Mereka menulis bahwa angkatan laut Polandia dan pasukan khusus melakukan operasi dengan dukungan teknis dari Amerika Serikat, Denmark, dan Swedia.

Setelah satu bulan, Kementerian Pertahanan Federasi Rusia menyatakan bahwa Inggris berperan dalam serangan teroris ini, dengan alasan bahwa angkatan laut Inggris berada di balik ledakan di jaringan pipa.

BACA JUGA:

Menurut pernyataan kementerian, “Menurut informasi yang tersedia, perwakilan dari unit Angkatan Laut Inggris ini mengambil bagian dalam perencanaan, penyediaan, dan pelaksanaan serangan teroris di Laut Baltik pada 26 September tahun ini. Mereka meledakkan pipa gas Nord Stream 1 dan Nord Stream 2.”

Para ahli percaya bahwa Inggris harus membayar harga tinggi untuk sabotase tersebut, karena penghancuran pipa menyebabkan masalah parah bagi Jerman, yang merupakan anggota penting Uni Eropa.

Serangan itu menghentikan negosiasi rahasia antara Moskow dan Berlin di tengah krisis Ukraina, yang mempengaruhi transfer gas ke Eropa. (ARN)

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: