arrahmahnews

Densus 88 Tangkap 2 Polisi Pemasok Amunisi Teroris

Lampung, ARRAHMAHNEWS.COMPendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengungkapkan bahwa keterlibatan dua oknum polisi Polda Lampung yang diduga sebagai pemasok amunisi senjata api kepada teroris merupakan fakta bahwa jaringan terorisme mentargetkan aparat karena salah satu alasannya adalah punya akses ke senjata.

Sebelumnya ada Brigadir WK dari Kabupaten Tanggamus masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Polda Lampung karena diduga terpapar paham radikalisme.

BACA JUGA:

Ada Bripda NOS, anggota polisi wanita di Kepolisian Daerah Maluku, dipecat dari institusi kepolisian karena terdeteksi memiliki afiliasi dengan kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Densus 88 Tangkap 2 Polisi Pemasok Amunisi Teroris

Polisi

Ken menyebut kasus oknum Perwira Brimob Polda Lampung yang ditangkap Densus 88 kasusnya mirip dengan Sofyan Tsauri, polisi yang pernah terpapar Salafi Wahabi dan bergabung dalam jaringan teroris karena menyalurkan senjata api dan melatih pemuda yang ada di pelatihan militer di Aceh.

Bisa jadi diduga oknum Polda Lampung tersebut terlibat hanya karena berteman dengan jaringan terorisme, lalu dimanfaatkan akses senjatanya karena motif ekonomi dan bisa juga karena yang bersangkutan terpapar paham radikalisme, kita tunggu rillis resmi dari Densus 88.

Tapi Ken menduga kalau oknum polisi yang ditangkap Densus tersebut sudah bergabung dalam kelompok Polisi Cinta Sunnah.

Menurut Ken, saat ini muncul fenomena unik di internal kepolisian dengan istilah Polisi Cinta Sunnah yang juga merupakan salah satu cara infiltrasi paham salafi wahabi ke tubuh kepolisian.

Banyak Polisi yang terpapar radikalisme karena belajar dengan guru yang salah, karena salah mengundang penceramah dan mengikuti tokoh tokoh Salafi Wahabi.

BACA JUGA:

Ken menyebut fenomena Polisi Cinta Sunnah adalah benalu atau parasit ditubuh kepolisian, kelihatan rajin ibadah dan jargon memurnikan tauhid, kembali kepada quran sunnah selalu menjadi andalan mereka saat berdiskusi.

Banyak polisi yang tiba tiba menyalahkan dan membidahkan masyarakat yang berbeda paham, anti perbankan karena dianggap riba, bahkan sampai mengkafirkan orang lain yang tidak sepaham dan akhirnya pada mengundurkan diri karena menjadi Polisi dianggap bertentangan dengan hati nurani.

Jumlah pengikut media sosial Polisi Cinta Sunnah yang sekarang berganti nama menjadi Pembelajar Cinta Sunnah mencapai sekitar 750.000 orang.

Foto foto Polisi bercelana cinkrang dan berjenggot yang awalnya menghiasi beranda Instagram kini sudah banyak di hapus dan diganti dengan konten hadist dan ayat ayat kitab suci.

Ken khawatir jika fenomena Polisi Cinta Sunnah atau Polisi yang bergabung dengan kelompok Salafi Wahabi dianggap hal biasa dan tidak dianggap sebagai ancaman maka tidak mustahil kasus seperti di Lampung akan terjadi lagi di wilayah Polda lain.

Bahkan Direktur pencegahan BNPT Brigjen Ahmad Nurwakhid pernah mengungkapkan jika semua tahanan terorisme di lapas BNPT ataupun di tahanan kepolisian itu mayoritas berpaham Salafi Wahabi.

Harus ada antisipasi terhadap terpaparnya anggota kepolisian dalam hal sistem tes atau penelusuran tentang mental dan ideologi supaya penyusupan gerakan radikalisme di lingkungan aparat bisa dicegah. Tutup Ken. (ARN)

Sumber: KontraRadikal.com

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: