arrahmahnews

Fakta-fakta Baru Penyelewengan ACT Terungkap di Persidangan

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMPengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menggelar sidang perdana perkara penyelewengan dana Aksi Cepat Tanggap (ACT). Sidang perdana, pembacaan dakwaan terdakwa mantan Presiden ACT Ahyudin, Presiden ACT Ibnu Khajar, dan Hariyana Hermain digelar hari ini.

Sejumlah fakta baru terungkap dalam persidangan. Salah satunya, intervensi ACT terhadap ahli waris korban Lion Air JT610 terkait penggunaan dana hibah dari pihak Boeing Community Investment Fund (BCIF).

BACA JUGA:

Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengungkap, Boeing Community Investment Fund (BCIF) yang diterima oleh Yayasan ACT dari Boeing tidak diterima secara langsung oleh para ahli waris korban, melainkan oleh badan amal atau pihak ketiga yang ditunjuk oleh ahli waris korban.

Fakta-fakta Baru Penyelewengan ACT Terungkap di Persidangan

Ahyudin Hadir Virtual di Sidang Perdana Penyelewengan Dana ACT

“Pihak Yayasan ACT menghubungi keluarga korban agar menyetujui/merekomendasikan dana sosial/BCIF akan digunakan untuk pembangunan fasilitas sosial yang direkomendasikan dari pihak Yayasan ACT,” kata jaksa penuntut umum (JPU) dalam dakwaan saat sidang Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan Selasa (15/11).

Keluarga korban Lion Air juga dimintai persetujuan agar ACT dapat mengelola community fund atau dana sosial senilai USD 25.000.00 dari BCIF. Dari angka itu hanya sebanyak 68 ahli waris yang menyatakan bersedia mencairkan dana melalui ACT yang setiap proyek sebesar USD 144.500.

“Agar dana sosial/BCIF tersebut dapat dicairkan oleh pihak Yayasan ACT dan dapat dikelola oleh Yayasan ACT untuk pembangunan fasilitas sosial,” ujar jaksa.

Namun dalam perjalannya, ACT hanya memakai dana Rp20,56 M. Sementara total sisa dana sebanyak Rp117,98 M diduga turut diselewengkan yang mana tidak sesuai dengan perjanjian projek asal.

JPU sebut Ahyudin Cs bergaji Rp100 juta

Jaksa mengungkap, Ahyudin mengantongi Rp100 juta tiap bulan sebagai pimpinan lembaga filantropi atau President Global Islamic Philantrophy yang di dalamnya termasuk Aksi Cepat Tanggap (ACT).

BACA JUGA:

Nominal itu turut dikantongi petinggi lainnya, seperti Presiden ACT Ibnu Khajar, dan Ketua pengawas ACT pada 2019-2022 Hariyana Hermain.

Lewat penempatan jabatan selaku pimpinan dengan membangun organisasi Global Islamic Philanthropy, mereka berhasil meraup gaji masing-masingnya digaji mencapai puluhan juta yang diantaranya Ahyudin mencapai Rp100 juta.

Ahyudin cs Selewengkan Dana Rp117 M

Di sisi lain, Jaksa menyatakan, Ahyudin bersama Ibnu Khajar, dan Hermain telah menyelewengkan dana BCIF sebesar Rp 117.982.530.997 di luar dari peruntukannya terhadap keluarga korban kecelakaan Lion Air dengan nomor penerbangan 610 dari pihak perusahaan Boeing atau The Boeing Company.

“Yaitu untuk kegiatan di luar implementasi Boeing adalah tanpa seizin dan sepengetahuan dari ahli waris korban kecelakaan maskapai Lion Air pesawat Boeing 737 Max 8 maupun dari pihak Perusahaan Boeing sendiri,” ucap Jaksa.

Mulanya, Ahyudin merayu keluarga korban kecelakaan Lion Air agar ACT dapat mengelola dana tersebut.

Terungkap fakta bahwa penyaluran dana BCIF hanya senilai Rp 20.563.857.503 dari total keseluruhan dana senilai Rp 138.546.388.500. Ini didapat dari ‘Laporan Akuntan Independen Atas Penerapan Prosedur Yang Disepakati Bersama Mengenai Penerimaan dan Pengelolaan Dana BCIF Boeing Tahun 2018 sampai dengan 2021 oleh akuntan Gideon Adi Siallagan’. (ARN)

Sumber: Merdeka.com

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: