arrahmahnews

Khianati Rusia, Kremlin ‘Tendang’ Yunani Gaet Turki

Rusia, ARRAHMAHNEWS.COMJuru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengecam Yunani setelah kepemimpinannya mengusulkan pengiriman S-300 ke Ukraina dengan imbalan Amerika Serikat menggantinya dengan rudal Patriot.

“Itu akan menjadi pelanggaran berat… perjanjian kerjasama militer dan teknis Rusia-Yunani,” kata Zakharova.

BACA JUGA:

Tawaran Athena ini menyusul ratifikasi Perjanjian Kerjasama Pertahanan Yunani-Amerika pada bulan Mei yang memberi Washington akses ke tiga pangkalan militer, salah satunya sekarang menampung drone MQ-9 Reaper.

Khianati Rusia, Kremlin 'Tendang' Yunani Gaet Turki

Bendera Yunani dan Rusia

Situasi geostrategis di Mediterania Timur berangsur-angsur berubah sebagai akibat dari kebijakan Turki yang semakin mandiri.

Klaim maritimnya, pengerahan angkatan laut, rencana koridor energi, dan hubungan spektrum penuh yang berkembang dengan Rusia membuat khawatir AS, yang pada gilirannya dengan tegas mendukung Yunani dalam persaingan lama ini, setelah sebelumnya selalu mendukung Turki selama beberapa dekade.

Hasil yang muncul adalah bahwa Yunani menjadi proxy regional AS nomor 1, sementara Turki berubah menjadi masalah regional paling besar.

Perkembangan ini memiliki konsekuensi besar bagi kebijakan luar negeri Rusia. Moskow sampai sekarang berusaha untuk menyeimbangkan hubungan dengan mitra lamanya di Athena dan mitra barunya, Ankara. Tetapi campur tangan regional Washington merusak rencana ini.

Turki kini ternyata menjadi mitra yang lebih bisa dipercaya daripada Yunani, termasuk dalam pengertian militer.

Ini terlepas dari yang sebelumnya disebutkan bahwa dalam sejarahnya Turki merupakan saingan Rusia, sementara budaya dan agama yang sama dengan Yunani memainkan peran utama dalam mendekatkan hubungan dengan Rusia.

Semua ini menunjukkan bahwa elemen emosional dalam beberapa kemitraan strategis tidak cukup untuk mempertahankan Kerjasama jangka Panjang ditengah menurunnya hegemoni AS yang ikut campur dan memecah-belah. Ini dibuktikan dengan kemerosotan hubungan Yunani-Rusia yang didorong oleh Amerika.

Demikian pula, hal-hal yang sampai sekarang mencegah hubungan Rusia-Turki, bukan tidak dapat diselesaikan selama masing-masing pihak benar-benar berdaulat dan memiliki kemauan politik untuk memperbaiki hubungan.

BACA JUGA:

Pengamatan sebelumnya tentang hubungan Rusia yang berkembang dengan Yunani dan Turki sangat menarik karena kedua negara Mediterania Timur itu sama-sama anggota NATO.

Di permukaan, tak satupun dari mereka seharusnya memiliki hubungan dekat dengan Rusia sejak awal, namun mereka masing-masing mendekati Moskow pada waktu yang berbeda, Athena telah melakukannya sebelum Ankara, dalam upaya untuk menyeimbangkan/menangkal dukungan Washington bagi saingannya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pecah belah intra-NATO AS, kontraproduktif.

Jelasnya begini, AS kadang-kadang berbalik dari negara yang didukungnya dalam persaingan tertentu di “lingkup pengaruhnya”. Dalam masalah Yunani-Turki, secara historis AS mendukung Ankara daripada Athena karena Turki adalah landasan era Perang Dingin Lama NATO di Asia Barat.

Sementara setelah pembubaran Uni Soviet, Yunani mendekati Rusia atas dasar ikatan historis budaya dan agama mereka dalam upaya untuk meminta dukungan militer Moskow guna  menyeimbangkan/menangkal Turki yang didukung Washington.

Hal ini berhasil membuat Athena memperoleh S-300, dan kemudian sempat untuk beberapa waktu poros Yunani-Rusia muncul di Mediterania Timur untuk melawan poros Turki-AS, dengan dua blok de facto ini bertarung memperebutkan Siprus.

BACA JUGA:

Skenario itu berbalik pada pertengahan dekade terakhir setelah Turki menyadari bahwa AS menggunakannya sebagai pendobrak di Suriah sambil secara bersamaan merencanakan untuk menikamnya dari belakang dengan kudeta dan terorisme PKK.

Sebagai tanggapan, Erdogan melipatgandakan lintasan pro-kedaulatan Turki dengan mengorbankan kepentingan hegemonik regional sekutu Amerikanya, yang mendorong AS untuk berbalik dan mendukung Yunani.

Kecenderungan hubungan putus-sambung selama waktu itu menghasilkan keadaan saat ini di mana Turki ternyata menjadi mitra yang lebih dapat dipercaya bagi Rusia daripada Yunani, termasuk dalam pengertian militer, sementara Yunani ternyata menjadi mitra yang lebih dapat dipercaya bagi AS daripada Turki.

Ke depan, hubungan ini kemungkinan akan menjadi geopolitik “new normal” di Mediterania Timur dimana transisi sistemik global menuju multipolaritas semakin cepat pada tahap Perang Dingin Baru ini.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa visi bersama tentang masa depan sistem internasional jauh lebih penting dalam menentukan kekuatan hubungan bilateral daripada tradisi budaya dan kesamaan agama, yang menjelaskan mengapa Yunani dan Turki bisa bertukar tempat sebagai mitra regional utama Rusia. (ARN)

Penulis: Andrew Korybko adalah seorang analis politik, jurnalis dan kontributor tetap untuk beberapa jurnal online, serta anggota dewan ahli untuk Institut Studi Strategis dan Prediksi di Universitas Persahabatan Rakyat Rusia. Ia telah menerbitkan berbagai karya di bidang Perang Hibrida, termasuk “Perang Hibrida: Pendekatan Adaptif Tidak Langsung untuk Perubahan Rezim” dan “Hukum Perang Hibrida: Belahan Bumi Timur”. Sumber OneWorld

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: