arrahmahnews

Ditengah Sanksi, Ekspor Minyak Iran Pecahkan Rekor Tertinggi

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM Ekspor minyak Iran pada akhir 2022 mencapai rekor tertinggi, sejak negara itu dikenai sanksi AS hampir lima tahun lalu. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah laporan yang mengutip data dari layanan pelacakan kapal tanker internasional.

Laporan pada hari Minggu oleh kantor berita Reuters mengatakan pengiriman minyak mentah Iran terus meningkat pada awal 2023 dengan pengiriman yang lebih tinggi ke China dan Venezuela.

BACA JUGA:

Iran belum merilis angka resmi tentang ekspor minyaknya selama beberapa tahun terakhir di tengah upaya untuk menghindari sanksi ilegal Washington.

Ditengah Sanksi, Ekspor Minyak Iran Pecahkan Rekor Tertinggi

iran

Namun, angka dari perusahaan yang melacak aliran minyak di seluruh dunia menunjukkan peningkatan yang stabil dalam penjualan minyak Iran sejak pertengahan 2021, terutama untuk pembeli swasta di China.

Laporan Reuters mengutip angka dari konsultan energi SVB International yang menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Iran telah meningkat 42.000 barel per hari (bpd) pada Desember tahun lalu dibandingkan dengan November yang mencapai rata-rata 1,137 juta bpd, tertinggi yang dicatat oleh perusahaan pengiriman Iran untuk luar negeri di sepanjang tahun 2022.

Data oleh Kpler, layanan pelacakan tanker internasional utama lainnya, menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Iran telah mencapai puncaknya pada 1,23 juta barel per hari pada November, tertinggi sejak Agustus 2022, sebelum turun menjadi tepat di bawah 1 juta barel per hari pada Desember.

Konsultan Petro-Logistik, perusahaan intelijen data minyak lainnya, mengatakan kepada Reuters bahwa ekspor minyak Iran bulan Desember telah mencapai level tertinggi sejak Maret 2019.

BACA JUGA;

Laporan tersebut juga merilis perkiraan oleh Vortexa, yang juga melacak pasokan minyak, tentang impor minyak China dari Iran pada akhir 2022, menunjukkan bahwa pengiriman telah meningkat 130% YoY menjadi 1,2 juta barel per hari pada Desember 2022.

Angka-angka tersebut merupakan tanda baru bahwa sanksi AS terhadap Iran telah gagal memotong pendapatan minyak negara itu menjadi nol, sebuah tujuan yang sering dinyatakan oleh mantan dan pejabat AS saat ini.

Mereka juga membenarkan upaya Iran dalam beberapa tahun terakhir untuk lebih mengandalkan sumber daya diplomatik dan ekonomi untuk menghindari sanksi AS daripada tunduk pada tekanan Washington untuk mengurangi program nuklir, pertahanan, dan kebijakan luar negerinya dengan imbalan pelonggaran sanksi. (ARN)

Sumber: PressTV

GoogleNews

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: