NewsTicker

dr Theresia Monica: Kadar Antibodi Pada Penderita Covid-19

dr Theresia Monica: Kadar Antibodi Pada Penderita Covid-19 dr Theresia Monica

Bandung – Dr dr Theresia Monica Rahardjo SpAn KIC MSi, merupakan inisiator yang menyampaikan surat kepada Presiden Joko Widodo untuk penerapan TPK di seluruh Indonesia. Atas usahanya, dr Theresia mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri), yang secara seremonial dilakukan panitia Muri dalam program online talkshow pada Selasa (2/6/2020).

Dalam akun Facebooknya dia menjelaskan tentang “Kadar Antibodi Pada Penderita Covid-19”. dr Theresia menjelaskan satu hal penting yang cukup tertunda lama, bagaimana dinamika antibodi IgM dan IgG pada Covid-19, dan apakah bila antibodi pasien tinggi pasien masih bisa menularkan penyakitnya atau tidak.

Baca Juga:

Skema Antibodi

Gambar ini memperlihatkan 4 jenis pasien Covid-19. Kotak berwarna hijau yang menggambarkan antibodi yang terbentuk, sedangkan dibawahnya adalah angka-angka untuk hari. Boleh melihat kembali grafik mengenai IgM yang timbul sejak hari pertama terpapar dan bertahan maksimal sampai sebulan dan IgG yang mulai timbul pada hari ke 7 dan dapat bertahan dalam kadar tinggi maksimal 4 bulan serta mulai menurun bertahap setelah 4 bulan bila tidak ada paparan kembali. Hasil variatif bisa terjadi pada setiap individu.

 

Kita lihat bagian pertama OTG, pasien OTG dapat tetap menularkan penyakitnya sampai sekitar hari ke 14, walaupun demikian bila rapid reaktif untuk IgG saja tetap HARUS dilakukan PCR (swab) untuk memastikan bahwa pasien tersebut tidak memiliki virus/partikel virus di dalam tubuhnya. Karena 14 hari merupakan rata2 atau pada umumnya bukan nilai yang pasti 100%.

Baca Juga:

Bagian ke dua pasien dengan gejala ringan atau sedang tetap dapat menularkan penyakitnya sampai hari ke 20-22. Gejala ringan itu bisa muncul setelah periode tanpa gejala, bisa berupa rasa tidak enak badan, batuk ringan ataupun peningkatan suhu minimal. Seringkali gejala minimal ini TIDAK DIRASA sebagai gejala sehingga bila ditanya merasa sebagai OTG. Di sini kita lihat, ada kemungkinan IgM memberikan hasil non reaktif sedangkan IgG sudah positif kuat atau kadarnya tinggi, tetapi masih ada kemungkinan ada di dalam periode akhir menularkan.

Bagian ke 3 dan 4 pasien berat dan kritis. Pasien tetap dapat menularkan penyakitnya selama dia menderita penyakit tersebut karena antibodi yang terbentuk jauh lebih sedikit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menghilangkan virusnya.

Jadi bila hasil RAPID REAKTIF apalagi bila kadar antibodi tinggi (IgM dan/atau IgG) maka lanjut dengan PCR (SWAB) untuk memastikan keberadaan virus di tubuh pasien. (ARN)

Sumber: Akun Facebook Theresia Monica Rahardjo

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: