NewsTicker

Pengiriman Minyak Iran ke Venezuela Hancurkan Hegemoni AS

CARACAS – Empat dari lima tanker bensin Iran telah tiba di Venezuela, melambangkan solidaritas yang semakin dalam antara kedua negara yang sama-sama menghadapi sanksi AS yang melumpuhkan, seorang pakar mengatakan kepada Radio Sputnik, pada hari Rabu. Dia juga membandingkannya dengan krisis Suez 1956, yang mengungkap sejauh mana penurunan imperialisme Perancis-Inggris.

Tanker minyak berbendera Iran, Petunia dan Faxon bergabung dengan tanker Fortune dan Forest di perairan Venezuela pada hari Selasa.

“Saya pikir kapal bahan bakar yang menuju ke Venezuela sama-sama sangat penting karena membawa bahan bakar yang sangat dibutuhkan untuk orang-orang di sana,” Mohammad Marandi, seorang ahli studi Amerika dan literatur postkolonial yang mengajar di Universitas Teheran, mengatakan kepada program Loud & Clear yang dipandu oleh Brian Becker.

Baca:

“Situasinya sangat buruk, sementara sanksi yang telah dijatuhkan oleh Amerika dan kebijakan yang mengintimidasi telah menghalangi orang lain untuk mengambil bahan bakar ini. Namun selain bahan bakar yang telah dikirim oleh Iran, sejumlah besar peralatan serta bahan kimia juga dikirim untuk membantu memulihkan kembali kilang minyak Venezuela dan pembangkit listrik, sehingga rakyat Venezuela dapat kembali membangun ekonomi mereka lagi,” katanya.

“Ada juga insinyur Iran di sana yang membantu Venezuela menyelesaikan ini. Jadi itu penting, karena rakyat Venezuela membutuhkan bahan bakar, seperti negara lain di planet ini, dan Anda juga harus tahu bahwa orang Amerika melakukan hal yang sama dengan Suriah. Pemerintah Amerika dan Eropa berusaha menghalangi warga Suriah untuk mendapatkan bahan bakar,” tambah Marandi

“Dan tentu saja, seperti biasa, mereka mengatakan semua ini demi hak asasi manusia, tetapi mereka mencoba membuat negara kelaparan, mereka mencoba menciptakan penderitaan di satu negara, dan media-media arus utama di negara-negara Barat berpura-pura tidak tahu dan mengklaim itu semua tidak benar,” kata sang akademisi. “Jadi, mereka mengatakan penderitaan dan kematian adalah tidak mungkin, ketika sanksi datang melanda negara-negara seperti Venezuela atau Suriah atau negara lain, dengan alasan apa pun.”

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya dari Iran menolak “imperialisme Amerika Utara.”

“Kami adalah dua orang revolusioner yang tidak akan pernah berlutut di hadapan imperialisme Amerika Utara,” kata Maduro, Wall Street Journal melaporkan.

Perdagangan minyak antara Iran dan Venezuela menandakan rasa solidaritas yang kuat di antara kedua negara, Marandi menekankan.

“Jelas ada ekonomi. Ada juga masalah membantu negara-negara seperti Iran untuk dapat melawan kekaisaran … Saya pikir masalah solidaritas, mendukung yang tertindas, seperti yang saya katakan, sangat kuat dalam budaya Iran dan budaya politiknya,” katanya.

“Jika itu satu atau dua kapal, Anda dapat mengartikan seluruh operasi ini secara berbeda, tetapi mengirim lima kapal tanker bahan bakar besar satu persatu ke Venezuela adalah pesan tegas ke AS … Tentu saja dalam keadaan normal tidak masalah, yakni perdagangan seperti pada umumnya. Tidak ada yang perlu dikeluhkan, tetapi ini adalah situasi yang luar biasa, karena pemerintah AS sekarang berperilaku seperti kekuatan kekaisaran dan arogan,” jelas Marandi.

Meskipun memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan kapasitas untuk menyuling sekitar 1,3 juta barel minyak per hari, sektor minyak Venezuela dihantam krisis menghancurkan akibat sanksi AS dan perampasan aset, yang telah mengurangi kapasitas produksi dan menyebabkan defisit bensin di seluruh negeri. AS telah menjatuhkan sanksi terhadap negara Amerika Selatan selama lebih dari satu dekade. Namun, sanksi telah diperluas secara besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir dalam upaya untuk mencekik pemerintahan Maduro.

Baca:

AS juga telah lama menargetkan Iran melalui sanksi atas aktivitas nuklirnya, dan pemerintahan Trump telah mengambil sikap “tekanan maksimum” terhadap Teheran, hingga menyebabkan banyak orang Iran mengalami kesulitan ekonomi yang lebih besar.

Ketika AS terus membebani hubungannya dengan banyak kekuatan global, ia mungkin mendekati “momen Suez,” kata Marandi.

“Saya pikir kita sedang mendekati apa yang sering mereka sebut momen ‘Suez’. Dan momen Suez adalah ketika Inggris dan Prancis mencoba menegaskan kembali kekuatan global mereka dengan menyerang Mesir, dan akhirnya gagal. Itu setelah Perang Dunia Kedua, dan setelah itu diakui bahwa kekuasaan telah berpindah ke AS. Dan saya berpikir bahwa perilaku pemerintah Amerika sekarang, berkaitan dengan Venezuela, Iran dan dunia dengan memusuhi Cina dan Rusia – saat ini semua orang adalah musuh – Saya pikir ini mencerminkan sesuatu yang terjadi di AS lebih daripada yang terjadi di luar negara,” jelas Marandi. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: