News Ticker

Kepala Rabbi Yerusalem Kunjungi Bahrain di Tengah Normalisasi Israel-Arab

BAHRAIN – Kepala Rabbi Israel mengunjungi Manama dengan dalih menghadiri acara keagamaan dan bertemu dengan raja Bahrain, dalam upaya mempercepat normalisasi Tel Aviv dan Arab setelah bertahun-tahun kontak klandestin.

Shlomo Amar, kepala Rabbi Yerusalem al-Quds, pada Senin melakukan kunjungan langka ke Bahrain. Ia menghadiri konferensi para pemimpin agama atas undangan Raja Hamad bin Isa Al Khalifah, media Israel melaporkan.

Selama kunjungannya, yang difasilitasi oleh kementerian luar negeri Israel, Amar bertemu dengan raja dan tokoh agama dari beberapa negara Arab lainnya, termasuk Kuwait, Qatar, Mesir, Yordania, dan Lebanon.

BacaAssad Kecam Eropa Soal Pengungsi: Apa yang Kalian Sebar Kalian Tuai

“Negara-negara Timur Tengah menginginkan perdamaian dengan Israel, kepemimpinan harus mempromosikan itu tanpa rasa takut,” kata Amar selama kunjungannya, dan menyatakan harapan bahwa di masa depan, kunjungan seperti itu tidak memerlukan persiapan khusus.

Raja Bahrain Hamad dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah mengadakan pertemuan rahasia di Budapest, Hongaria.

Sebelumnya pada Oktober, kantor berita Bahrain al-Youm yang berbasis di Inggris, mengutip sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifah telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanayhu di Hongaria pada bulan April.

Israel memiliki hubungan diplomatik penuh hanya dengan dua negara Arab, Mesir dan Yordania, tetapi laporan baru-baru ini menunjukkan bahwa Tel Aviv telah bekerja di belakang layar untuk menjalin kontak resmi dengan negara-negara Arab lainnya.

Pada bulan Juli, menteri luar negeri Israel Israel Katz dan Khalid bin Ahmed Al Khalifah bertemu untuk obrolan singkat tentang Iran di Washington dan keduanya berpose bersama.

Menteri luar negeri Israel dan Bahrain bertemu dalam pertemuan publik pertama saat kedua pihak bergerak lebih dekat ke arah hubungan resmi.

BacaBashar Assad: Suriah Hancur Karena Ideologi Wahabi Dibiarkan Berkembang

Pada bulan Juni, diplomat top Bahrain mengatakan kepada The Times of Israel bahwa “Israel adalah sebuah negara di kawasan … … dan memiliki hak untuk tinggal, tentu saja,” dan mengungkapkan keinginan untuk hubungan yang lebih baik dan “damai” dengan rezim Tel Aviv.

Komentar-komentar itu mengundang kecaman dari masyarakat Bahrain dan Palestina, yang mengatakan pernyataan itu sama dengan “pengkhianatan terbuka” dan bertentangan dengan “posisi persaudaraan rakyat Bahrain.” (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: