News Ticker

Erdogan Incar Negara-Negara Afrika

Rabu, 09 Maret 2016

ANKARA, ARRAHMAHNEWS.COM – Di tengah tur Presiden Recep Tayyip Erdogan baru-baru ini di Afrika Barat, mulai dari 28 Februari hingga 4 Maret 2016, meliputi kunjungan ke Pantai Gading, Ghana, Nigeria dan Guinea, munculah laporan berita yang mengatakan bahwa Turki mulai membangun kehadiran militernya di wilayah strategis Afrika, Somalia. Perkembangan ini akan membuat Turki sebagai negara asing kelima yang memiliki kehadiran militer di Afrika, bergabung dengan Inggris, Perancis, Jepang dan Amerika Serikat.

Menurut laporan yang disebarkan secara luas oleh media pro-pemerintah Turki, di bawah headline seperti “Turki Baru Menyebar ke Empat Benua”, disebutkan bahwa misi pelatihan telah diminta oleh pemerintah Somalia untuk mempersiapkan tentara nasional guna menghadapi al-Shabab, organisasi teror yang menyerang Kedutaan Besar Turki di Mogadishu pada tahun 2013. Dalam hal ini, Turki akan memberikan pelatihan elit militer meliputi kontraterorisme, keamanan perbatasan, perlindungan kekuatan dan unit tindakan kecil.

Ketertarikan Turki terhadap Afrika bukanlah hal yang baru. Setelah Ankara menyatakan 2005 sebagai Tahun Afrika, benua itu dengan cepat menjadi salah satu pilar dari kebijakan luar negeri Turki. Tahun itu adalah pertama kalinya seorang perdana menteri Turki mengunjungi Ethiopia dan Afrika Selatan, dan pada tanggal 12 April tahun itu, Uni Afrika memberikan Turki status sebagai pengamat.

Pada bulan Agustus 2008, KTT Turki-Afrika telah membawa perwakilan tingkat tinggi dari 49 negara-negara Afrika ke Istanbul. Selain menjadi indikator penting dari pembukaan ekonomi Turki di Afrika, KTT itu juga mengumpulkan dukungan Afrika bagi Turki agar terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB (2009-2011), dengan 51 dari 53 suara dukungan negara-negara Afrika.

Pada bulan November 2014, enam tahun setelah pertemuan Turki-Afrika pertama, Equatorial Guinea menyelenggarakan pertemuan serupa di Malabo yang membawa Erdogan bersama-sama dengan para pemimpin dari 30 negara-negara Afrika untuk membahas kemitraan untuk bidang-bidang baru. Komunike akhir menyatakan bahwa Pelaksanaan Rencana Bersama untuk periode 2015-2019 telah disetujui. Menurut rencana, proyek pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan energi akan segera dilakukan. KTT ketiga dijadwalkan akan diadakan di Istanbul pada tahun 2019.

Setelah 2012, ketertarikan Turki di Afrika berkembang di luar perdagangan, bantuan kemanusiaan, kesehatan dan pendidikan, mengambil pendekatan yang lebih ekstrem. Misalnya, seperti yang dilaporkan dalam Al-Monitor pada bulan Oktober 2014, angkatan laut Turki, Barbaros Naval Task Force, berlayar ke seluruh garis pantai Afrika, mengunjungi 25 pelabuhan di 24 negara, termasuk Somalia, 19 dari mereka adalah dikunjungi untuk pertama kalinya. Dengan misi ini, Turki untuk pertama kalinya menggunakan militer sebagai instrumen kebijakan luar negeri. Misi itu direncanakan dan diwujudkan melalui kerjasama yang erat antara birokrasi militer dan sipil di Ankara dan dianggap sebagai kebijakan luar negeri yang sukses di mana unsur-unsur kekuatan lunak dan keras bekerja bersama-sama.

Mengapa Ankara melakukan langkah kebijakan luar negeri militer itu? Hal itu karena kebijakan luar negeri yang berorientasi militer telah digunakan sebagai alat politik domestik utama bagi Erdogan, para pemimpin politik Turki dan elit AKP, yang memiliki konstituen nasionalis konservatif. Kebijakan Luar Negeri ini digunakan untuk menarik hati rakyat yang dibuai dengan kebanggaan bahwa mereka adalah “bangsa prajurit”. Selain itu, inisiatif kebijakan luar negeri militer ini juga memungkinkan pemerintah AKP memiliki ruang bernapas dari krisis Suriah, seiring terus berlangsungnya bentrokan di tenggara dengan Kurdi, serta perdebatan tanpa akhir tentang amandemen konstitusi untuk menciptakan sistem pemerintahan presidensial.

Mengirim militer Turki ke luar negeri bisa membawa transformasi keorganisasian militer . Melalui misi internasional, Angkatan Bersenjata Turki (TSK) mendapatkan pengalaman militer yang berharga dalam penciptaan berbagai gugus tugas dan operasi bersama yang menggabungkan unsur-unsur dari tentaranya, baik angkatan udara, angkatan laut dan pasukan khusus.

Setelah 2010, TSK mulai memberikan perhatian khusus untuk tujuan internasionalisasi. Dengan ini, mereka akan bekerja sama lebih erat dengan militer lain dan meningkatkan visibilitas di arena global. TSK sejauh telah menandatangani perjanjian kerjasama militer dengan 68 negara dan sedang dalam proses negosiasi perjanjian dengan 41 negara lain.

Jenis kebijakan luar negeri berorientasi militer ini, menyediakan bagi kantor perdana menteri dan berbagai kementerian seperti urusan luar negeri, kesehatan dan pendidikan dengan peluang jangka panjang untuk mengidentifikasi bidang yang saling menguntungkan dalam kerjasama dan perdagangan dengan negara-negara lain. Singkatnya, tujuan Turki yang ngotot membangun kehadiran militer dan metode lain dari kerja sama militer merupakan siasat penting untuk menciptakan dan mengembangkan hubungan bilateral yang nantinya dapat melengkapi dalam kegiatan soft power untuk industri pertahanan, kesehatan, pendidikan dan budaya negara itu.

Tentu saja, selain itu, kebijakan luar negeri militer ini membawa keuntungan geostrategis bagi Turki juga. Sejak 2015, Ankara telah berada di bawah tekanan politik, militer dan ekonomi dari aliansi yang dipimpin Rusia. Turki kini berharap untuk menetralkan tekanan tersebut melalui kebijakan luar negerinya. Negara itu berusaha meningkatkan kerja sama militer di Kaukasus, dengan Georgia dan Azerbaijan; di Afrika, dengan Kenya, Ethiopia dan Zanzibar; di Teluk, Qatar, Oman dan Arab Saudi; dan di Balkan, dengan Makedonia, Albania, Kosovo dan Bosnia.  Karenanya, tidak ada perlu terkejut mendengar laporan bahwa kini Turki membangun kehadiran militer di Afrika dan negara-negara lainnya. Kini, kebijakan luar negeri militer adalah proyek hewan peliharaan Ankara. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: