NewsTicker

Zarif: Saatnya Dunia Melawan Rasisme

Amerika Serikat – Menteri luar negeri Iran menegur Amerika Serikat karena kebrutalan pemerintahan itu terhadap warganya yang keturunan Afrika-Amerika, mendesak seluruh dunia untuk berperang melawan rasisme.

“Beberapa orang tidak berpikir ‘Black Lives Matter’,” ujar Mohammad Javad Zarif dalam cuitannya pada hari Sabtu (30/05), merujuk pada gerakan aktivis internasional, yang berasal dari komunitas Afrika-Amerika, yang berkampanye melawan kekerasan dan rasisme sistemik terhadap orang kulit hitam.

“Bagi mereka diantara kita yang melakukannya: sudah lama tertunda bagi seluruh dunia untuk berperang melawan rasisme,” tambahnya.

Baca: Demo Kematian George Floyd Menyebar ke Berbagai Wilayah AS

“Saatnya untuk Dunia Melawan Rasisme,” kata Zarif, tampaknya menyinggung proposal “World Against Violence Extremism (WAVE)” yang pernah digagas sebelumnya oleh Presiden Iran Hassan Rouhani, yang dengan suara bulat disetujui oleh Majelis Umum PBB pada Desember 2013.

Dalam cuitannya, menteri luar negeri Iran itu juga memposting gambar-gambar versi revisi pernyataan rekan Amerika-nya tahun 2018 tentang protes Iran, mengubah beberapa kata dalam pernyataan Mike Pompeo untuk mengubahnya menjadi pernyataan Iran tentang protes AS.

Sebelumnya pada hari itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras pertumpahan darah atas warga Afrika-Amerika di Amerika Serikat dan penindasan negara itu atas protes yang menyusul pembunuhan mengerikan seorang pria kulit hitam baru-baru ini oleh seorang polisi kulit putih di Minneapolis.

Baca: Gedung Putih Lockdown Pasca Diserbu Pendemo Kematian George Floyd

“Iran menyesalkan pembunuhan tragis terhadap warga kulit hitam Amerika, mengecam profil rasial yang mematikan di Amerika Serikat & mendesak pihak berwenang untuk melakukan keadilan bagi setiap kasus,” kata kementerian itu dalam sebuah tweet pada hari Jumat.

Kecaman itu disampaikan tiga hari setelah video kebrutalan polisi AS terhadap warga kulit hitam viral di internet, rekaman itu menunjukkan bahwa petugas polisi, Derek Chauvin, mencekik George Floyd yang tidak bersenjata sampai mati setelah menginjakkan lututnya ke leher Floyd dan menekannya ke tanah.

Petugas itu menolak untuk mengurangi tekanannya, meskipun Floyd terdengar berulang kali memohon untuk hidupnya dan berkata, “Aku tidak bisa bernapas.”

Kematian Floyd, menjadi pengingat pedih dari pembunuhan berulang-ulang yang tidak dapat dibenarkan atas anggota masyarakat Afrika-Amerika oleh polisi AS, pembunuhan ini diikuti oleh protes di seluruh negeri. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: