NewsTicker

4 Kejanggalan Donasi ACT-UII Soal Penggalangan Dana Peduli Uyghur

4 Kejanggalan Donasi ACT-UII Soal Penggalangan Dana Peduli Uyghur Donasi ACT-UII Peduli Uyghur

Jakarta – Inilah 4 kejanggalan soal donasi peduli Uyghur yang digagas oleh Sebuah NGO Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bergabung dengan Universitas Islam Indonesia, seperti kita ketahui bersama ACT juga sempat bermasalah dalam mengirim bantuan ke Suriah, bahkan terindikasi membantu para militan disana, Siapa Suku Uyghur ini hingga ACT dan UII melakukan penggalangan donasi?, kita jadi bertanya-tanya kembali, simak artikel berikut ini:

Beredar e-poster di jejaring medsos, berjudul “UII Peduli Uighur”. Seruannya: “Mari bergabung bersama UII dan Aksi Cepat Tanggap guna menyalurkan bantuan terbaikmu untuk Muslim Uighur.” No rekening UII atau Universitas Islam Indonesia pun dicantumkan di e-poster itu. Pertanyaannya: apakah Bapak Rektor UII yang terhormat, Bapak Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, tidak mengetahui adanya kejanggalan dalam aksi penggalangan dana ini?.

 
Baca: Adakah Hubungan Intim ‘Antara Bukalapak dengan ACT, HTI, Suriah dan Bachtiar Nasir’?

Kejanggalan Pertama, menurut banyak media mainstream, kaum Muslim Uighur sebanyak satu juta orang ditahan di kamp, dan mereka mengalami penyiksaan dan larangan untuk beribadah.

Jadi kalau bantuan itu digalang, diberikan kepada siapakah? Kepada yang sedang ditawan di kamp? Tentu tidak mungkin. Bukankah kata ACT di web mereka, “Sedikitnya ada 101 fasilitas keamanan tingkat tinggi yang terdeteksi di Xinjiang…fasilitas itu tertutup, raksasa, punya pagar besi dan beton, dan punya menara pemantau untuk mengontrol pergerakan siapapun di dalamnya.” Atau, kepada keluarganya? Ini juga tidak mungkin, karena kata ACT di web resmi mereka, “Warga Uighur tidak bebas ber-Islam, pakai janggut tidak boleh, puasa tidak boleh, berdoa dan bersujud di masjid tidak boleh”. Artinya, ada polisi atau CCTV ada di segala penjuru Xinjiang untuk mengawasi kan? Bagaimana bisa bantuan asing masuk kalau dimana-mana ada polisi dan CCTV, seperti disimpulkan dari cerita ACT itu?.

Baca: Sekjen Alsyami Komentari Perselingkuhan ‘Bukalapak dan ACT’ Soal Donasi Suriah

Kejanggalan Kedua, bukankah yang jadi isu “kaum Muslim Uighur dibatasi dalam ber-Islam”? Lalu, dana bantuannya untuk apa? Kalau mereka diberi baju dan makanan, apa mereka jadi bebas ber-Islam? Kalau diberi uang, apa mereka jadi bebas berjanggut lagi? Kalau kita lihat iklan ACT di Kitabisa.com totalnya mencapai milyaran rupiah, ACT mengatakan: “Bantu Pengungsi Uighur Bertahan di Musim Dingin; Muslim Uighur krisis silent dan pangan.” Pertanyaannya: pengungsi Uighur itu ada dimana? Kami sudah lacak di google, yang disebut pengungsi Uighur itu banyak yang tinggal di Turki, dan di berbagai negara Barat, bukan tinggal di tenda-tenda ala korban perang. Tetapi mereka yang secara resmi (dengan paspor) pergi ke negara lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik. (sumber:https://www.france24.com/en/20190812-chinese-uighur-refugee-fears-deportation-turkey )

Jadi, mau diberikan kepada siapa makanan dan selimut itu?

Kejanggalan Ketiga, Di akun FB UII, disebutkan “Mari bergabung bersama UII & Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk memberikan bantuan terbaik bagi saudara kita yang tengah berjuang melawan kejamnya penindasan dan kekerasan di Xinjiang, China dengan berdonasi melalui rekening …” Apakah ini artinya dananya diberikan kepada “pejuang politik”? Siapa? Yang banyak diberitakan, “juru bicara” Uighur di dunia internasional adalah World Uyghur Congress (WUC). WUC diciptakan oleh CIA pada era Perang Dingin. WUC inilah yang sering diwawancarai dan dikutip media Barat. WUC kini berkantor pusat di Munich, Jerman dan mendapat dukungan dari berbagai negara Eropa. Tanggal 7-10 Desember lalu, Presiden WUC, Dolkun Isa bertemu dengan orang-orang penting, termasuk anggota Parlemen Uni Eropa. Asal tau saja, 18.000 Al Qaida- Uighur saat ini mendapat suplai makanan dari LSM Jerman dan Prancis (https://www.voltairenet.org/article208556.html) Atau artinya, diberikan kepada pejuang bersenjata? Rekam jejak digital ACT menunjukkan bahwa ACT dalam berbagai acara penggalangan dana Suriah menggunakan bendera FSA, yaitu oposisi Suriah yang angkat senjata, alias, teroris juga. Di berbagai perang, FSA terbukti kerjasama dengan Al Qaida, bahkan ISIS.

Baca: Dina Sulaeman: Tentang Bukalapak dan ACT ‘Pro Pemberontak Suriah’

4 Kejanggalan Donasi ACT-UII Soal Penggalangan Dana Peduli Uyghur

ACT Bawa Bendera Pemberontak Suriah

Nah, orang-orang Uighur ini juga sangat banyak yang bergabung dengan kelompok teroris di Suriah. Saat ini, diperkirakan ada 18.000 orang anggota Al Qaida asal Uighur yang masih tertahan di Idlib, Suriah. Mau pulang ke China, takut. Mau pindah ke Turki, Erdogan tidak mau terima. (sumber: https://www.voltairenet.org/article202535.html) Apakah yang disebut “pengungsi” adalah mereka ini dan dana yang terkumpul akan diberikan kepada mereka?

Kejanggalan Keempat, pemerintah China secara tegas menolak tuduhan ada kamp penahanan dan penyiksaan kepada Muslim Uighur. Artinya mereka pasti menolak mentah-mentah masuknya bantuan itu ke wilayah China; atau apalagi bila diberikan ke “pengungsi” Uighur di Suriah (alias Al Qaida). Pemerintah Indonesia juga tidak akan merestui tindakan kelompok masyarakat yang melanggar kedaulatan negara lain. Jadi apakah UII sebagai sebuah universitas besar dan terhormat mau nekad melakukan pelanggaran diplomatik? Wallahu a’lam. Silahkan dijawab oleh ACT. Harapan kami kepada Rektor UII, pertanyaan kami juga Anda pertanyakan sehingga Anda bisa meninjau ulang kerjasama Anda dengan ACT. Sekian. Terimakasih. (ARN)

Artikel ini telah di muat di Seword.com dengan Judul “Mempertanyakan Donasi UII-ACT Peduli Uyghur

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: