NewsTicker

Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina?

Dina Sulaeman: Kenapa Pemerintah RI Tak Dukung Uighur Tapi Dukung Rohingya-Palestina? Apartemen Warga Uighur di Turki

Jakarta – Pengamat Timur Tengah dan yang intens mengamatai masalah radikalisme dan terorisme Dina Sulaeman dalam akun fanpage facebooknya mengungkap sebuah fakta yang cukup mengejutkan tentang kenapa pemerintah Indonesia tidak mendukung Uighur tapi intens mendukung Rohingya dan Palestina, ini penjelasannya:

Sebuah “iklan” berbayar (sponsored) lembaga pengepul donasi untuk Uighur melintas di beranda. Berbeda dari sebelumnya, kini lembaga itu menyebutkan dengan jelas, bahwa bantuan selimut dan pangan akan diberikan kepada pengungsi Uighur di Kayseri, Turki.

Baca: Wartawan Turki Ungkap Isu Kamp Penyiksaan di Uighur Adalah Propaganda Teroris

Nah, gitu dong, terus-terang saja, bahwa bantuan itu akan diantar ke Turki. Saya baru dengar nama Kayseri, dan dengan sedikit google ketemulah foto ini.

Apartemen Warga Uighur di Turki

Apartemen Warga Uighur di Turki

Foto ini adalah kompleks apartemen yang disediakan pemerintah Turki untuk menampung para pengungsi Uighur, lokasinya di Kayseri, sekitar 11 jam naik bis dari Istanbul.

Dari foto ini ada beberapa hal yang bisa kita cermati:

  1. Judul: “Anggota minoritas Muslim terbesar di Cina membuat rumah baru di Turki”. Faktanya, ada 10 etnis di China yang beragama Islam, saya urutkan dari yang populasinya paling banyak: suku Hui, Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan dan Tatar. Jumlah total mereka 22 juta orang, atau sekitar 1,6% dari total populasi China.
  2. Ini adalah foto tahun 2015, saat ISIS masih “jaya”. ISIS membutuhkan pasukan dan ‘warga negara’ lebih banyak di “Islamic State”-nya. Di saat yang sama, Erdogan sangat ingin Assad terguling. Saat itu, kebijakan Turki adalah membuka pintu untuk kaum Uighur. Itulah sebabnya, mereka dengan mudah dapat visa dan secara legal masuk Turki, diberi tempat tinggal pula.
  3. Menurut reportase AP tahun 2017 (tapi menceritakan kejadian tahun 2015), begitu orang-orang Uighur itu sampai bandara Istanbul, sudah ada aktivis Uighur menanti dengan 3 bis kosong, untuk membawa mereka ke Kayseri. Namun di saat yang sama, juga ada 20 Uighur perekrut ISIS yang menunggu, mereka menjanjikan uang, pekerjaan, dan tempat tinggal, di Suriah. Sebagian besar mau menerima bujukan perekrut ISIS itu. Sumber: (Eksklusif AP: Uighur Tiongkok bekerja untuk menangkis jihad)

Baca: Denny Siregar: Isu Uighur Propaganda AS dan Kadrun Indonesia Serang NU-Muhammadiyah

Saya menduga, derasnya arus Uighur keluar dari Xinjiang pada masa itu ada kaitannya dengan rekrutmen milisi ini. Tahun-tahun tersebut, propaganda ISIS sangat luar biasa: menjanjikan “negeri Islami” yang sangat nyaman buat kaum Muslim. Di laporan lain diceritakan bahwa orang-orang Uighur itu membayar mahal makelar yang berjanji akan membawa mereka ke Turki. Ada makelar yang benar-benar mengantar mereka ke Turki, ada yang nyasar dulu ke berbagai negara, termasuk tewas di perjalanan.

Ada sebuah keluarga (terdiri 20 orang) Indonesia yang juga termakan propaganda jenis ini. Mereka hidup nyaman di Indonesia, tapi kemudian menjual segala harta bendanya untuk bisa berangkat ke kekhalifahan ISIS di Raqqa Suriah. Ujungnya, menyesal, dan minta bantuan pemerintah untuk pulang. (17 Pengikut ISIS asal Indonesia Dipulangkan dari Suriah)

  1. Tahun 2019, sudah mulai ada upaya deportasi pengungsi Uighur dari Turki. (Pengungsi Uighur di Turki khawatir mereka akan dikirim kembali ke Cina) Mengapa? Kemungkinan besar, karena Turki lebih mementingkan hubungan ekonominya dengan China. Selain itu, perang Suriah sudah hampir usai. Yang tersisa adalah masalah besar: ada 18.000 milisi “jihad” asal Uighur tertahan di Idlib. Mereka tidak mau pulang ke China. (18.000 al-Qaeda Uighur di Suriah)

Baca: 22 Negara Desak China Hentikan Pelanggaran ke Muslim Uighur, Tidak Ada Nama Turki-Saudi

“Pulang” ke Turki? Erdogan tidak cukup gila untuk mau menampung 18.000 eks Al Qaida/ISIS. Siapa yang mau kasih makan dan pekerjaan untuk mereka di Turki? Jelas ini adalah efek perang yang tidak diduga oleh Erdogan. Dia dulu mengira, Assad akan terguling dengan cepat, sehingga sebanyak apapun Al Qaida/ISIS yang ia bantu rekrut dan ia biarkan lalu-lalang di perbatasan Turki-Suriah, mereka akan tetap di Suriah, tidak akan muncul masalah “pulangnya kemana?”

  1. Bagaimana kondisi para pengungsi Uighur di Turki? Seperti dilaporkan AP [2], meskipun Turki menerima pengungsi Uighur dan memberi tempat tinggal, mereka tetap kesulitan bekerja atau sekolah. Jika paspor China mereka habis, otomatis mereka tidak punya kewarganegaraan (stateless) dan Turki juga tidak mau kasih kewarganegaraan.

Jadi, ya, dari sisi ini memang mereka menderita, di TURKI. Yang jelas, status resmi mereka adalah warga China dan sebenarnya China mau menerima mereka kembali asal masuk ke kamp deradikalisasi dulu (sebagaimana eks-ISIS yang pulang ke Indonesia pun menjalani program deradikalisasi).

  1. Apakah pemerintah Indonesia bisa membantu mereka? Di foto terlihat 2 bendera. Yang merah adalah bendera Turki. Yang biru adalah bendera East Turkestan. Artinya, ini adalah sebuah gerakan separatisme (pemisahan diri dari sebuah negara berdaulat). Pemerintah Indonesia jelas tidak bisa ikut campur membantu sebuah gerakan separatis. Analoginya, seperti gerakan Papua Merdeka, Indonesia juga melawan (secara diplomatik) saat ada negara-negara lain membiayai dan mendukung gerakan separatisme tersebut.

Kasus ini berbeda dari Rohingya. Justru orang Rohingya ingin diakui sebagai warga Myanmar (dan mendapatkan hak-hak sebagai warga negara), tapi pemerintah Myanmar menolak. Jadi Rohingya bukan gerakan separatis dan Indonesia berperan sangat aktif membantu penyelesaian kasus ini. Juga berbeda dengan kasus Palestina, yang jelas dijajah oleh Israel. (ARN)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: