News Ticker

Zein Al-Kaf “Al-Bayyinat” Corong Wahabi Indonesia Anti Persatuan Islam

Zein Al-Kaf Corong Wahabi Di Indonesia Yang Suka Adu Domba Umat Islam atas Nama NU dan MUI

Arrahmahnews.com – Siapa yang tak mengenal Zein Al-Kaf? Sosoknya sangat populer di kalangan oknum-oknum yang anti-Syiah. Selaku Ketua Yayasan Al-Bayyinat, Zein Al-Kaf sering menjadi narasumber atau pembicara terkait hal-hal yang berhubungan dengan Syiah. Bahkan, dari keterangan laman resminya di Albayinat Indonesia, dengan gamblang diungkapkan bahwa berdirinya yayasan ini adalah untuk membendung Syiah. Zein Al Kaf“Dengan berkembangnya aliran Syi’ah di Indonesia dimana ajaran-ajarannya telah menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw bahkan mereka berani mencaci maki dan menghina serta memfitnah pemimpin pemimpin Islam yang telah berjasa membantu Rasulullah Saw, maka akibatnya telah membuat keresahan dan perpecahan didalam masyarakat sehingga mengganggu stabilitas keamananan yang telah diciptakan oleh pemerintah. Melihat situasi yang tidak menguntungkan dan membahayakan bagi agama, bangsa dan negara, maka bangkitlah orang-orang yang terpanggil untuk melawan aliran tesebut. Berbagai usaha mereka lakukan dalam rangka membendung berkembangnya aliran yang menyesatkan tersebut. Selanjutnya setelah mendapat pengarahan dari beberapa pihak, baik dari Syibanul Alawiyyin (Sesepuh Habaib) serta tokoh-tokoh islam lainnya, maka orang-orang yang terpanggil melawan Syi’ah tersebut, membentuk satu Yayasan yang bernama AL-BAYYINAT. Yang bergerak dalam bidang da’wah Islamiyah berdasarkan akidah Ahlussunnah Waljamaah serta bekerja sama dengan pemerintah dalam mewaspadai gerakan Syi’ah di Indonesia.

RadikalismeDisamping itu, Al-bayyinat merupakan wadah bagi orang-orang Sunni yang mempunyai kepedulian membela akidah Ahlussunnah Waljamaah, serta tidak senang melihat gerakan Syi’ah di Indonesia. Dengan demikian semua orang Islam yang bergerak melawan Syi’ah, adalah otomatis orang Al-bayyinat. Di tiap kota di Indonesia bila disitu ada orang Syi’ah, pasti ada orang Al-bayyinat yang siap membalas propaganda Syi’ah. Bahkan di Singgapur, Malaysia, Hadramaut dan Saudi Arabia juga ada orang-orang Albayyinat. Albayyinat selalu menghimbau pada masyarakat, agar membantu pemerintah dalam mewaspadai gerakan Syi’ah di Indonesia. Karena Al-bayyinat tidak menghendaki apa yang diperbuat oleh orang-orang Syi’ah, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, terulang lagi di bumi pertiwi ini.”

Dalam setiap kesempatan seminar anti-Syiah yang sering diselenggarakan di berbagai kota Indonesia, Zein Al-Kaf selain bertindak sebagai Ketua Yayasan Al-Bayyinat, tak jarang ia disebut-sebut sebagai ‘tokoh Nahdlatul Ulama (NU)’. Predikat ‘tokoh NU’ ini tentunya bisa ditafsirkan bahwa ‘NU anti Syiah, menolak Syiah, atau menyatakan Syiah sebagai aliran sesat’. Acara tersebut pun tidak bisa dipandang sebelah mata, karena ada ‘tokoh NU’ yang hadir.

Hanya saja, benarkah sikap Zein Al-Kaf tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh NU secara umum? Seperti diketahui, NU adalah organisasi Islam moderat terbesar di Indonesia, yang gaungnya hingga ke mancanegara. NU dianggap sebagai perwujudan Islam welas asih dan cinta damai, dan tak dapat dipungkiri, NU telah mencatatkan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. NU dikenal toleran, dan menghargai perbedaan sebagai sebuah keniscayaan. NU menghormati pemeluk agama lain, bahkan membantu mengamankan ibadah mereka (seperti pasukan Banser menjaga Natal), dan terhadap mazhab-mazhab lainnya dalam Islam, NU menekankan dialog dengan cara yang patut.

Sedangkan Zein Al-Kaf sangat jauh dari prinsip-prinsip tersebut. Sikap yang ia ambil bisa dikategorikan sebagai takfiri (mengkafir-kafirkan pihak lain).

Muslimedianews (MMN), media Islam Ahlussunah wal Jamaah di Indonesia mengulas lebih dalam tentang siapa sebenarnya Zein Al-Kaf, berikut kutipannya:

“Hampir semua hal yang berkaitan dengan agama dan kebangsaan, tidak akan bisa dipisahkan dari NU. Bahkan tidak akan ada kehebohan bila tidak ada embel-embel NU didalamnya. NU jadi rebutan sekaligus incaran.

Permisalan yang sederhana; menjadi ustadz Wahabi sangat gampang, cukup hafal hadits “Kullu Bid’ah” lalu sesatkan amaliyah NU. Maka akan membuatnya dipanggil ustadz oleh pengikut-pengikut Wahabi lainnya, lalu terkenal. Meskipun banyak yang terkenal sebagai orang bodoh karena berbuat demikian.

Demikian pula, Wahabi membuat deklarasi, seminar, tabligh akbar atau sejenisnya dalam rangka menolak Syi’ah maka tidak akan heboh kecuali ada embel-embel NU yang nyangkut di acara tersebut, baik dengan mencatut logo NU, nama tokoh NU, dan sebagainya, atau ada tokoh NU yang dihadirkan pada acara tersebut.

Dalam hal ini, biasanya yang sering dihadirkan oleh Wahabi adalah Habib Achmad bin Zein Al-Kaf dari Yayasan Al-Bayyinat. Ia kerap kali diundang Wahabi lalu pada undangan atau acara Wahabi diberi tulisan yang jelas (besar) dengan nama “PWNU Jatim”. Embel-embel NU menjadi penting untuk disertakan. Sekalipun Zein Al-Kaf hadir atas nama pribadinya atau lainnya, dan tidak atas nama PWNU Jatim, sebab acaranya bukan program PWNU Jawa Timur.

Untuk lebih terlihat dahsyat, maka Zein Al-Kaf diposisikan sebagai Ketua PWNU Jawa Timur, sebagaimana ditulis pada salah satu fanpage Wahabi yang menggunakan nama tokoh Wahabi Hartono Ahmad Jaiz. Secara masif mereka tebar kebohongan.

Didalam Nahdlatul Ulama ada Syuriyah dan ada Tanfidziyah. Bila dikatakan sebagai Ketua, hal itu berarti Ketua Tanfidziyah . Ketua (Tanfidziyah) PWNU Jawa Timur adalah KH Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah, bukan Habib Achmad bin Zein Al-Kaf. Sedangkan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur adalah KH Miftachul Akhyar.

Zein Al-Kaf memang termasuk anggota MUI Jatim dan PWNU Jatim tetapi bukan sebagai Ketua PWNU Jawa Timur. Kebanyakan acara Wahabi yang dihadirinya atas nama pribadi atau mungkin atas nama Yayasan Al-Bayyinat, bukan atas nama PWNU Jawa Timur. (ARN)

Iklan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: