News Ticker

Erizeli Jely Bandoro Jawab Berita Hoax ‘Tarik Uang Anda dari Tiga Bank BRI, BNI, Mandiri’

JAKARTA, Arrahmahnews.com - Ini ada tulisan dari group tetangga sebelah (masih belum tahu yang dimaksud dengan grup sebelah oleh bapak Erizeli Jely Bandaro) dan sudah di share oleh lebih dari 4 ribu . Ini informasi yang sesat dan provokatif. Karena dampaknya bisa membuat keresahan dimasyarakat sehingga kepercayaan terhadap perbankan bisa hancur. BIla system perbankan tidak lagi dipercaya maka bisa berdampak sistemik. Ini akan menimbulkan chaos ekonomi dan bisa membuat negeri bangkrut seperti tahun 1998. Ucap Erizeli Jely Bandoro di akun Facebooknya. (Baca Semua Gara-Gara Jokowi Sang Presiden)

Stop FitnahPemerintah Indonesia kembali berutang senilai US$3 miliar, atau setara Rp 40 triliun kepada China. Tiga bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia menandatangani kesepakatan pinjaman itu, disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno di Beijing, pada 16 September 2015. (Baca Beda Rasa Jokowi dan Fahri Kader PKS Tentang Kenaikan Tunjangan)

Di sejumlah media sosial, berita tersebut ditambahkan dengan isu bahwa Menteri BUMN berutang kepada China, dengan menjaminkan ketiga bank BUMN tersebut. Hingga kini, kementerian BUMN belum konfirmasi kebenaran isu tersebut.

Di sejumlah medsos, Senin 21 September 2015, mulai beredar gambar imbauan agar masyarakat menarik uang tabungan mereka dari Bank Mandiri, BNI, BRI, yang digadang-gadang menjadi agunan untuk pinjaman kepada China.

“Tarik uang tabungan Anda di Mandiri, BNI, BRI! Bahaya, bila semua bank tersebut yang telah menjadi jaminan utang oleh Menteri BUMN ke China bisa terjual kapan pun di tengah kondisi bangsa seperti sekarang. Amankan harta anda dari rezim perampok sekarang juga..!!!” demikian tulisan dalam gambar dengan foto Menteri BUMN, yang beredar di media sosial. (Baca Jonru Wahabi, Kader PKS Bela Saudi Salahkan Jokowi Atas Tragedi Runtuhnya Crane di Masjidil Haram)

Gambar Himbauan penarikan uang di Bank Mandiri, BNI, dan BRI

Gambar tersebut pun segera mendapat respon dari netizen.

“Ini informasi yang sesat dan provokasi karena dampaknya bisa membuat keresahan di masyarakat, sehingga kepercayaan terhadap perbankan bisa hancur,” tulis seorang Erizeli Jely Bandoro dalam akun Facebooknya. (Baca Jokowi Presiden Yang Cerdas Sudah Kembali)

Untuk itu saya ingin jelaskan secara tekhnis bagaimana sebetulnya cara China memberikan dukungan financing untuk proyek insfrastruktur di Indonesia. Ini penjelasan dari akun Fb Pak Erizeli Jely Bandaro :

Direct investment, untuk financing ini diberikan kepada BUMN China dalam bentuk kredit ekspor. Kredit ini digunakan untuk pembiayaan lewat program BtoB. Atau business to business. Tidak ada resiko atau tanggung jawab negara atau tidak ada beban pada APBN. Biasanya China berkejasama dengan BUMN di Indonesia. BUMN menyiapkan dana pendamping seperti Izin, pembebasan tanah. Selebihnya financing berasal dari China.Pembagian saham bedasarkan kesepatakan antara BUMN China dengan BUMN Indonesia.

Non direct investment, untuk financing ini diberikan kepada Bank di Indonesia. Skema nya adalah: Pertama, bank BUMN China mendapatkan line kredit dari China Development bank. Dana ini digunakan untuk membeli kredit yang sudah dibiayai oleh bank dalam negeri di Indonesia. Sebagai jaminannya, bank dalam negeri harus memberikan payment guarantee (biasanya dalam bentuk SBLC atau BG). Sebetulnya dengan penjualan kredit kepada bank di China, resiko tetap ada pada bank dalam negeri.Tapi bagaimanapun resiko itu sudah di cover oleh collateral dari debitur. Jadi bank di Indonesia tidak ada resiko apapun. Nah apa keuntungan dari bank dalam negeri atas dana penjualan kredit ? Ya keuntungannya adalah pemenuhan likuiditas. Dengan ada penjualan kredit itu maka bank mendapatkan dana segar yang bisa digunakan untuk pembiayaan debitur lainnya.Jadi skema ini sangat menolong karena bagi bank bahwa likuiditas itu sangat penting guna mendukung fungsinya sebagai agent of development. Kedua, bank BUMN China memberikan pinjaman langsung kepada pemilik proyek di Indonesia dengan jaminan berupa SBLC.SBLC tidak harus dari dalam negeri tapi bisa juga dari luar negeri. Apabila bank dalam negeri sebagai penjamin maka debitur harus menyediakan collateral seperti lazimnya kredit.Kalau bukan sebagai penjamin maka peran bank dalam negeri hanya sebagai settlement agent (channeling bank) Tidak ada resiko apapun bagi bank dalam negeri. Bahkan mereka dapat fee dan mendapatkan arus kas dari proyek tersebut.

Dia mengatakan, bila sistem perbankan tidak lagi dipercaya, maka bisa berdampak sistemik. Ini akan menimbulkan chaos (kekacauan) ekonomi dan bisa membuat negeri bangkrut seperti 1998.

Beberapa netizen juga ikut nimbrung berkomentar tentang berita Hoax diatas salah satunya bapak Willem Dagi “Sebenarnya bentuk provokasi hoax ini sudah masuk ranah pidana. penyebarnya harus dipidana karena menyesatkan”.

Ibu Inas Doang “Memang banyak issu menyesatkan, kita harus hati2 menerimanya….. “

Dia mengatakan, segala lini mereka manfaatkan untuk mengoyang stabilitas negara, dari  SARA (suku, ras, agama, dan antar golongan), ekonomi, politik, keamanan dan budaya dan kalau ini terus berlangsung, maka inilah sebenar-benarnya bahaya laten terhadap negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (ARN/Akun Fb Erizeli Jely Bandoro/Berbagai Media)

About ArrahmahNews (14625 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: