Islah Bahrawi “Semprot” Kader PKS, HAM Tak Layak untuk Teroris

Islah Bahrawi "Semprot" Kader PKS, HAM Tak Layak untuk Teroris
Mengenal IM

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS Aboe Bakar Alhabsyi meminta penegakan hukum terhadap terorisme di Indonesia tidak mengabaikan HAM, dikutip dari Kumparan (16/06/2021).

Tidak boleh ada tuduhan sepihak seolah pelanggar HAM hanyalah aktor negara, karena kita semua tahu terorisme tak pernah mengenal kemanusiaan, apalagi HAM

Sebuah komentar yang cukup lucu dan amat tidak logis, teroris tidak pernah dalam aksinya menjaga HAM bahkan mereka melakukan aksi-aksi sadis dan barbar, komentar kader PKS ini seakan-akan bagus untuk penegaakan HAM tapi disisi lain itu bahasa-bahasa yang ingin melindungi teroris.

BACA JUGA:

Rakyat Indonesia harus mengetahui apakah PKS benar-benar mengusung kepentingan rakyat Indonesia atau justru sedang mengkhianati masyarakat dan para kadernya sendiri dengan sentimen keagamaan serta jargon sebagai partai bersih.

Mengenal IM

Lima anggota Densus 88 anti-teror Polri dibunuh oleh teroris di penjara Mako Brimob pada tahun 2018, jenazahnya dianiaya dan sebagian lagi dimutilasi. Di berbagai wilayah konflik banyak prajurit gugur dan teroris membantai rakyat sipil dengan brutal, ujar Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi, dalam akun instagramnya.

Kita sejatinya sedang berhadapan dengan sekumpulan monster yang mengalami kekeringan nurani dan kemanusiaan, dimana pembunuhan dan pembantaian dianggap sakral. Mereka adalah kerumunan manusia yang menganggap dirinya paling manusia tapi berperilaku binatang.

BACA JUGA:

“Asasi manusia” akan menjadi sebuah “Hak” jika berlaku secara universal dalam hubungan timbal balik antar manusia yang saling menghormati. Namun jika anda meminta salah satu pihak saja untuk menghormati HAM, maka sama saja anda menumbalkan hak asasi orang lain kepada orang lain.

Dalam deklarasi PBB tentang Hak Asasi Manusia pasal 5 telah disebutkan; “No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment or punishment”. Tertulis: No one!!

“Hak setiap orang akan berkurang ketika hak satu orang terancam,” kata John F. Kennedy. Kata “orang” di sini tidak hanya mengacu kepada tentara, polisi atau rakyat sipil, tapi mengacu kepada semua manusia.

Tidak boleh ada tuduhan sepihak seolah pelanggar HAM hanyalah aktor negara, karena kita semua tahu terorisme tak pernah mengenal kemanusiaan, apalagi HAM. Ini wilayah yang rentan dengan situasi “Overmacht” dan “Noodtoestand”.

BACA JUGA:

Ideolog terorisme seperti Sayyid Qutb, Ayman al-Zawahiri dan Aman Abdurrahman mungkin saja tidak pernah membunuh dengan tangannya sendiri, tapi dia telah menggerakkan ribuan tangan orang lain untuk melakukan pembantaian atas nama Tuhan.

Mereka melahirkan banyak binatang buas. Jika mereka divonis mati, tentunya bertujuan untuk melindungi manusia dari berbagai pembantaian selanjutnya.

Tapi suara-suara sumbang selalu saja muncul, dan melekatkan penindakan terduga teroris dengan pelanggaran HAM. Ini selalu menjadi tanda tanya; apakah mereka sejatinya pendukung terorisme diam-diam? Rasanya pertanyaan ini tidak usah dijawab, toh, yang melakukan protes selalu yang itu-itu saja. Cukup jawab dalam hati bagi yang paham; 2024 nanti, enough is enough!. (ARN)

IKUTI TELEGRAM ARRAHMAHNEWS

About Arrahmahnews 30634 Articles
Media Aktual, Tajam dan Terpercaya

Be the first to comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.