Hot News

Israel Tak Biarkan Ada Stabilitas di Timur Tengah

Iran, ARRAHMAHNEWS.COM – Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan berulang Israel ke Suriah. Tehran mengatakan rezim Tel Aviv tidak mentolerir stabilitas di Timur Tengah.

Pada hari Rabu (29/12), juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh mengecam serangan berulang Israel ke wilayah Suriah, terutama yang dilakukan sehari sebelumnya, yang menargetkan pelabuhan Latakia, pintu gerbang terbesar untuk makanan dan obat-obatan.

BACA JUGA:

Khatibzadeh mengatakan bahwa sementara serangan itu adalah sebuah tindakan agresi terhadap negara anggota PBB dan pelanggaran kedaulatan negara, serangan terbaru itu menunjukkan manifestasi yang jelas dari tujuan rezim Israel untuk memicu krisis dan menimbulkan kekacauan di kawasan. Serangan itu juga merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak bermoral, seperti dilansir PressTV.

Israel Tak Biarkan Ada Stabilitas di Timur Tengah

Khatibzadeh

“Para pemimpin rezim ini, yang tidak mentolerir stabilitas, keamanan dan ketenangan kawasan, dan telah mendefinisikan keamanan mereka dalam hal [membangkitkan] ketidakamanan dan ketidakstabilan di kawasan ini, telah melanggar dan mengejek hukum, aturan, dan peraturan internasional dengan melakukan serangan berulang-ulang di wilayah Suriah dengan dalih palsu dan tidak berdasar,” katanya.

Ia juga menekankan hak Suriah untuk membela diri terhadap “tindakan aggressor,” Khatibzadeh lebih lanjut mendesak masyarakat internasional untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menghentikan terulangnya serangan yang membahayakan perdamaian dan keamanan regional seperti itu.

“Sekitar pukul 3:21 (0521 GMT), musuh Israel melakukan agresi udara dengan beberapa rudal dari arah Mediterania … menargetkan halaman kontainer di pelabuhan Latakia,” lapor SANA mengutip sumber militer mengatakan pada hari Selasa.

Menurut SANA, serangan itu menyebabkan kerusakan material yang signifikan. Ini adalah serangan kedua Israel yang menargetkan pelabuhan tersebut bulan ini.

Suriah dan rezim Israel secara teknis berperang karena pendudukan Israel tahun 1967-sekarang di Dataran Tinggi Golan negara Arab.

Rezim Israel mempertahankan kehadiran militer yang signifikan di wilayah itu, yang digunakannya sebagai landasan peluncuran untuk serangannya di tanah Suriah. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: