News Ticker

Angkat Kabinet dari TNI-Polri, Signal Keras Jokowi Perangi Kelompok Radikal

  • Utusan PBB
  • Bin Salman dan Donald Trump
  • Hanum Rais, Wiranto, Kriminal
  • Komik Soal LGBT
  • Kominfo
Kabinet, Jokowi, Radikalisme Prabowo foto Bareng Luhut, Moeldoko dan Fachrul Razi

Arrahmahnews.com, Jakarta – Kabinet Indonesia Maju Jokowi sudah terbentuk tampak jelas sekali bahwa Presiden tidak main-main untuk memberantas radikalisme dan toleransi dalam 5 tahun ke depan masa jabatannya. Signal itu terlihat jelas dengan diangkatnya Menko Polhukam dari NU, Mendagri mantan KaDensus 88, Menhan mantan Danjen Kopassus dan Menag mantan Wakil panglima TNI waktu itu, ujar pegiat medsos Muhammad Zazuli dalam akun facebooknya.

Sejak 2014 bangsa ini seolah terpecah jadi dua antara kelompok konservatif (baca: Kampret) dan liberal (baca: Cebong). Rivalitas ini sangat tajam yang bahkan bisa merusak hubungan pertemanan hingga persaudaraan. Bahkan ada yang rela masup penjara hingga berani mati demi membela junjungannya masing-masing. Bahkan ada yang bilang siap jalan kaki Jakarta-Jogja hingga potong tit** segala, meski kemudian ternyata ingkar.

Baca: Dina Sulaeman: Waspadai Bisnis Penggulingan ‘Rezim’

Persaingan politik beberapa tahun belakangan ini sudah benar-benar merusak sendi dan nilai-nilai kebangsaan kita secara frontal. Tapi peristiwa yang barusan terjadi menunjukkan dan membuktikan bahwa politik itu 70% pragmatisme dan 30% idealisme. Tiada lawan dan kawan abadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Politik itu cair, dinamis dan fleksibel – katanya, yang kalo dibaca artinya adalah “Siapa dapat apa”.

Yang dulu mati-matian bela Prabowo dan setengah mati benci Jokowi langsung bisu seribu bahasa saat ternyata terjadi deal politik di antara mereka. Yang di bawah masih cakar-cakaran sementara yang di atas sudah tertawa bersama dan bagi-bagi kue kekuasaan. Padahal sudah telanjur ada yang putus pertemanan dan persaudaraan, babak belur, dipenjara hingga tewas segala. Goblok memang gratis tapi janganlah diborong semuanya.

Politik itu adalah urusan meraih dan mempertahankan kekuasaan, jangan kaitkan dengan agama dan Tuhan segala. Konyol itu namanya.

Baca: Prof Sumanto Al-Qurtuby: Bisnis Agama Untuk Kekuasaan

Bagaimana mungkin Jokowi yang berlatar belakang keluarga muslim malah dibilang PKI sedang Prabowo yang berlatar belakang Kristen malah dibilang titisan Allah SWT? Selama 5-6 tahun belakangan ini memang bangsa ini sudah setengah gila. Kita tahu siapa saja yang memainkan narasi gila semacam itu. Dan kini adalah saat yang tepat untuk menghancurkan mereka sebelum semuanya terlambat seperti Suriah.

Menko Polhukamnya sekarang orang NU, Mendagrinya mantan Kepala Densus 88, Menagnya mantan wakil Panglima TNI dan Menhannya mantan Danjen Kopassus yang masih harus membuktikan kesetiaannya kepada bangsa ini.

Baca: “FATWA TERORIS” Jokowi dan Makar “SARA” Kelompok Radikal

Pemilihan nama-nama ini adalah sinyal bahwa perang terhadap radikalisme telah dimulai, terutama pasca ditusuknya Wiranto, penculikan, penganiayaan hingga ancaman kematian terhadap seorang jurnalis di sebuah rumah ibadah hingga dosen IPB yang merancang aksi bom dan pembakaran Jakarta. Bahaya dan ancaman radikalisme sudah benar-benar ada di depan mata. Lengah sedikit hancurlah kita semuanya.

Saat ini mungkin mereka sedang tiarap tapi jangan harap mereka bisa seenaknya lagi menyebar fitnah, hoax, kebencian, adu domba dan isu SARA. Semua orang tentunya boleh menjalankan agamanya tapi tidak ada toleransi untuk radikalisme yang akan merusak dan memecah belah bangsa. Kali ini kita harus tegas. Orang-orangnya sudah ada dan siap melakukan pembersihan baik di kampus, tempat ibadah hingga instansi-instansi negara lainnya dari pengaruh dan infiltrasi radikalisme. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. (ARN)

Iklan
  • Warga Papua
  • Tim Elit
  • Bendera HTI
  • Touring Jokowi
  • Polda Metro Jaya
  • Asteria Fitriani

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: