Islah Bahrawi: Mengapa Khawarij Menentang Pindah Ibukota?

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMMenurut Islah Bahrawi dalam akun Instagramnya menyatakan pindah ibukota dalam sejarah politik Islam seperti Makkah, Madinah, Damaskus, Baghdad, Kairo, Istanbul, dan Cordoba, adalah pusat kota pemerintahan Islam dari masa ke masa. Dalam setiap perpindahan ibukota pada masa itu, kaum Khawarijselalu menentang. Mengapa?

Kekuatan-kekuatan baru dibangun oleh kaum Khawarij di seputaran Madinah, Kuffah dan pusat pemerintahan Islam lainnya selama ratusan tahun. Ini terjadi sejak khalifah Ali bin Abi Tholib, Bani Umayyah hingga ke era Abbasiyah. Perpindahan ibukota yang terjadi pada masa itu biasanya untuk menghindari dari berbagai politik, termasuk agitasi politik dari Khawarij yang tidak ada habisnya.

BACA JUGA:

Pada era Abbasiyah, beberapa pemerintahan bahkan sempat berpusat di Raqqa dan Samarra, meski sebagian besar tetap berpusat di Baghdad. Selama berabad-abad pusat pemerintahan Islam selalu berubah – meninggalkan pola primitif untuk membentuk kota dengan fungsi sosialnya sendiri.

Islah Bahrawi: Mengapa Khawarij Menentang Pindah Ibukota?
Pindah ibukota

Dinasti Abbasiyah memindahkan ibu kotanya dari Damaskus ke Bagdad pada 762 M. Bani Abbasiyah sangat bergantung pada dukungan Persia dalam menggulingkan Bani Umayyah, sehingga pergeseran geografis itu dilakukan untuk memenuhi keinginan dasar pendukung dari non-Arab itu. Karenanya, khalifah Al-Mansur lebih membuka pintu bagi Muslim non-Arab ke istananya dibanding suku-suku Arab.

Dia menganggap orang-orang Arab tidak sepenuhnya setia dan mudah terhasut oleh kaum Khawarij. Dia berupaya mengasingkan pemerintahannya dari orang-orang Arab meski sebagian mendukungnya dalam pertempuran melawan Bani Umayyah di pinggiran sungai Zab di Irak.

BACA JUGA:

Merujuk kepada Martin Hinds dalam “Studies in Early Islamic History”; kelompok Khawarij selalu menganggu pemerintahan Islam sejak era khalifah Ali, hingga sang pemimpin itu harus menguasai pusat kekuasaannya ke Kuffah dari Madinah. Kelompok Khawarij dan memindahkan itu.

Hingga berabad-abad berikutnya, mereka selalu memastikan setiap khalifah untuk memindahkan ibu kota dan memintanya untuk mengembalikannya ke Madinah. keheranan; ibu kota pemerintahan harus tetap berada dalam tata kelola aristokrasi suku-suku Arab.

Menurut Hinds, alasan ini hanya strategi Khawarij saja. Mereka ingin kembali ke Madinah agar mudah memobilisir jaringan politik yang sudah terbentuk sejak akhir perang Shiffin.

Ini sejarah. “Masa lalu membaca hari ini, dan hari ini membaca masa lalu”, kata Goenawan Mohamad. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: