Islah Bahrawi: Kekonyolan Beragama ‘Tuhan Dipaksa ke Kancah Politik’

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COMRame di pemberitaan terkait baca Alquran di jalan Malioboro, Yogyakarta oleh sekumpulan orang, membaca Alquran tidak harus di jalan, membaca Alquran ada tata caranya. Beragama itu tidak harus mempertontonkan kekonyolan seperti ini, karena disitu jelas banyak pejalan kaki yang terganggu.

Islah Bahrawi dalam akun Instagramnya menulis tentang kekonyolan dalam beragama. Menurutnya semua tragedi dan kekonyolan dalam sejarah agama-agama terjadi ketika Tuhan ditarik paksa ke dalam kancah politik. Bukan hanya itu.

BACA JUGA:

Bahkan ibadah yang sangat bathin dan kadang lebih khidmat jika dilakukan dalam pejaman mata agar terasa sunyi dan gelap, di tangan politik segala ritual meminta sorotan lampu. “Semua orang harus tahu bahwa tuhan anda, hanya milik kami saat ini”, kata Mark Juergensmeyer secara sarkastik dalam “Religion as Social Vision”. Lalu semua laku spiritual yang mistis berubah menjadi eksibisi, bukan lagi kontemplasi.

Islah Bahrawi: Kekonyolan Beragama 'Tuhan Dipaksa ke Kancah Politik'
Kekonyolan beragama

Dan pada akhirnya ibadah dalam agama-agama tunduk kepada protokoler mesin politik. Menjelang pemilihan, seorang kandidat tampak sibuk menyalakan hio di sebuah Wihara, dan gambarnya disebar ke berbagai pelosok. Beberapa jam kemudian dia bisa hadir di masjid dengan tampilan sangat Islami dengan lontaran kalimat-kalimat yang eksklusif-religius. “Politik suatu waktu adalah tentang wajah yang dihadirkan dengan ritual-ritual yang dipertunjukkan”, kata Ruth Marshall.

Di berbagai belahan dunia, pertemuan afektif antara ritual agama dan kepentingan politik diartikulasikan sebagai daya pikat yang paling ampuh. Secara alegoris tertuang dalam negosiasi ketuhanan yang sangat simbolistik.

“Jubah-jubah” agamis itu, adalah bujuk rayu agar kita percaya bahwa kepentingan politiknya adalah kepentingan dogmatis. Jika kita tidak berpihak kepada mereka, kita dianggap melawan Tuhan. Itulah mengapa, mereka menunjukkan ibadahnya secara terbuka di hadapan publik.

BACA JUGA:

Berunjuk rasa lalu shalat berjamaah di jalan raya, mengaji secara massal di pinggiran jalan Malioboro, adalah bagian dari metodologi politik lama yang pernah terjadi di era Yunani klasik, Abad pertengahan Eropa, dan masa-masa “Arab Spring” beberapa tahun lalu.

Politisasi agama yang berlindung di balik Syiar agama. Orang-orang yang tidak setuju akan dianggap melawan militansi agama. Semua umat beragama pernah melakukan pola yang sama, dengan penghakiman satu sama lain yang sama.

Kita tidak boleh takjub dengan kelatahan-kelatahan semodel ini. Jalinan politik dan agama adalah “hypnosis-industry” yang sudah terjadi berabad-abad. Jangan heran. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: