News Ticker

Ratna Sarumpaet di Danau Toba, untuk Siapa dan Apa?

JAKARTA – Kemunculan perempuan yang dikenal sebagai salah satu aktivis wanita yang cukup vokal di negeri ini dalam waktu yang bersamaan dengan kehadiran Menteri Koordinator Kemaritiman — RI, Luhut Binsar Panjaitan mengundang tanda tanya serta pro-kontra di kalangan masyarakat.

Ratna Sarumpaet tiba-tiba saja hadir saat Luhut Binsar Panjaitan berbicara didepan para keluarga korban KM Sinar Bangun yang tenggelam beberapa minggu lalu saat membawa penumpang yang diperkirakan melebihi kapasitas kapal. Pria berdarah Batak itu sampai harus bicara dengan nada tinggi setelah Ratna mencoba untuk memotong pembicaraannya seraya meminta pemerintah tetap melakukan pencarian korban tenggelam dan mengevakuasi jenazah dan kapal yang masih berada di dasar danau.

Dibalik debat panas kedua sosok penting yang dikenal publik itu, apa sebenarnya arti kemunculan Ratna Sarumpaet sehubungan dengan rencana pemerintah untuk menghentikan pencarian dan evakuasi kapal dan korban KM Sinar Bangun yang tenggelam beberapa hari lalu?

BacaNgabalin: Provokasi Ratna Sarumpaet di ‘Air Keruh’ Danau Toba.

Apakah kebetulan saja? Apakah hal yang beliau lontarkan adalah benar-benar mewakili hati nurani sebagai seorang aktivis yang sangat peduli dengan penderitaan yang dialami oleh keluarga korban yang ditinggalkan dan masih berduka? Atau lebih kepada pesan-pesan khusus yang sarat muatan politik? Atau hanya ingin mencari panggung saja?

Sekilas memang sepertinya protes Ratna Sarumpaet yang menuntut pencarian korban KM Sinar Bangun terus dilanjutkan, patut didukung dan sempat mempengaruhi netizen yang menonton videonya. Namun setelah mendengar penjelasan dari pihak pemerintah, akhirnya kita bisa memahami duduk persoalan yang sebenarnya.

3 kali perpanjangan waktu pencarian korban dan batas waktu yang diatur dalam undang-undang, keterbatasan kemampuan teknologi untuk mengangkat bangkai kapal membuat keluarga korban bisa memahami kendala yang dihadapi. Keterbatasan kemampuan penyelam dan alat bantu yang digunakan memaksa pemerintah harus berkoordinasi dengan tim serta meminta masukan kepada keluarga korban untuk langkah-langkah selanjutnya.

Namun sangat disayangkan disaat keluarga korban sudah mulai memahami alasan evakuasi akan dihentikan, tiba-tiba Ratna Sarumpaet datang bak pahlawan yang mengatasnamakan dirinya sebagai wakil dari mereka yang berduka.

BacaKomentar Pedas Kepala SAR, Bu Ratna Saja Nyelam Danau Toba.

Suasana memanas karena keluarga korban yang merasa tidak terwakili dengan ucapan Ratna malah menjadi lawan debat Ratna. Dengan mudahnya ia berkata kepada keluarga korban lawan debatnya “Kamu jangan mau dibayar”.

Wah, atas dasar apa Ratna Sarumpaet berkata begitu? Apakah ada bukti orang tersebut dibayar? Lalu ketika Ratna Sarumpaet sudah berseberangan dengan keluarga korban, lalu siapa sebenarnya yang diperjuangkan Ratna? Yang jelas dirinya sendiri!

Sentimen kepada pemerintah, itulah dasar tindakannya sehingga menyinggung soal mengadukan permasalahan kemanusiaan ini ke Dewan Keamanan PBB ketika motifnya adalah politis, untuk mempertegas kelemahan pemerintah. Makanya masyarakat batak berhak untuk marah kepada Ratna karena mengambil panggung diatas penderitaan orang lain.

So, berempatilah sedikit. Urusan sentiment kepada pemerintah saat ini jangan dipertontonkan didepan keluarga yang sedang berduka. Itu sangat keterlaluan, ibunda…Kalau Negara sudah tidak mampu, lantas apa solusinya dari ibu Ratna? “Cari sampai dapat!” Wong keluarga korban meski perih, mau tak mau harus menerima kenyataan ini, kenapa Ratna Sarumpaet terus ngotot agar pemerintah bertanggungjawab? Kita harus maklum, dari dulu Ibu Ratna ini suka protes.

Kapan sih ibu Ratna tidak protes? Wong mobilnya diderek Dishub DKI saja dia langsung mencak-mencak dan telpon Gubernur. [ARN]

About ArrahmahNews (16289 Articles)
Media Pencerahan Rakyat

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: