Nyinyir Densus 88, Islah Bahrowi “Semprot Politisi Busuk”

Jakarta, ARRAHMAHNEWS.COM Beberapa hari ini Densus 88 menangkap para teroris di beberapa daerah di Indonesia.

Tetapi ada saja yang nyinyir atas penangkapan teroris ini, salah satunya adalah Fadli Zon, dalam akun Twitternya dia menulis “Hampir tiap hari tangkap teroris, apa yg diteror? Mau teror siapa? Kalau di luar negeri biasanya teroris ngaku apa tujuan n kehendaknya. Ini malah melawan kotak amal n kurma. Uruslah “KKB” di Papua”.

BACA JUGA:

Mungkin Fadli Zon bisa baca tulisan Islah Bahrawi, agar memahami apa yang terjadi sebenarnya.

Menurut Islah mereka seolah berbagi peran. Setiap kali Densus 88 melakukan penangkapan, yang satu selalu mengangkat soal Islamofobia, yang lain mempertanyakan keterlibatan Densus 88 dalam penanganan KKB Papua. Apa maksudnya? Ingin membangun stigma bahwa Densus 88 hanya memerangi umat Islam, tapi lepas tangan untuk non-Islam. Apa tujuannya? Agitasi politik! Pragmatisme politik! Politik identitas! Menipu elektoral!

Des 5, 2021
Foto Instagram Islah Bahrawi

Kesimpulan secara umum adalah; mereka ingin memecah belah keutuhan bangsa dengan menunggangi agama. Seolah mereka berjuang untuk agama. Khawarij selalu menipu! Ironisnya, yang satu adalah politisi dari partai yang berkoalisi dengan pemerintah. Bagian lain adalah para “pansos politik” dan pengurus Ormas yang berlindung di balik semat ulama. “Echo-chamber” yang lain adalah ampas Pilpres yang gemar sembahyang di parkiran Monas ketimbang di Istiqlal.

BACA JUGA:

Dari frasa di atas saya berkesan panas. Tapi kita memang tidak boleh “membekukan diri” untuk melawan narasi yang sangat berbahaya bagi integritas bangsa kita ini. Terlebih yang dilakukan oleh para “pemburu rente” yang gemar menggunakan isu agama sebagai teknik mengemis suara elektoralnya. Kaum munafik yang masih menelan uang negara, mencicipi fasilitas pemerintah, tapi tiada hentinya menghasut bangsa. Ngegas? Iya! Saya tidak akan pernah kompromi untuk melawan politisasi agama.

Islamofobia itu sendiri adalah industri politik. Menurut Khaled Beydoun, isu ini dipakai politisi dari mana pun. Di negara non-Muslim, isu ini dipakai para politisi untuk menjelekkan Islam sebagai alat daya pikat politik. Tapi di negara dengan penduduk mayoritas Muslim, isu ini dipakai politisi untuk membangun “branding” bahwa ia pejuang Islam. Padahal semua sama; menghasut rakyat untuk mengais laba!

Pola ini bukan baru. Sudah ratusan tahun terjadi. Bahkan Abdurrahman bin Muljam yang dieksekusi dengan dipotong lidahnya karena menghasut rakyat Iraq dan membunuh Sayyidina Ali tak membuat jera manusia-manusia sesudahnya. Lidah orang-orang seperti ini sama berbahayanya – dipotong atau tidak – karena kebusukan bukan pada lidahnya, tapi di hatinya. (ARN)

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: