News Ticker

Zarif: Slogan ‘America First’ Trump jadi Bumerang untuk AS

Menlu Iran Menlu Iran

TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengecam agenda “America First” yang selalu digembar-gemborkan oleh Presiden AS Donald Trump, dan menyebut hal itu sebagai “kesalahan,” yang menunjukkan kegagalan pemerintahan Trump untuk menghormati komitmen internasional dan hanya menciptakan reaksi global terhadap Washington.

Zarif membuat pernyataan itu dalam sebuah wawancara dengan outlet media al-Araby al-Jadeed yang diterbitkan pada hari Selasa (13/11).

Kala itu ia ditanya tentang tweet Richard Haass, presiden dari Dewan Hubungan Luar Negeri AS baru-baru ini, yang menanggapi seruan Presiden Emmanuel Macron untuk menciptakan “tentara Eropa nyata” guna  melindungi diri terhadap AS.

Haass berkata, “America First telah membawa kita membangkitkan semangat De Gaulle.

Zarif menekankan bahwa ia setuju dengan Haass tentang gagalnya pendekatan ‘America First’ milik Trump.

“Yah, saya pikir Amerika Serikat adalah negara yang sangat kuat. Pengeluaran militer Amerika Serikat sama dengan pengeluaran militer dari semua negara lain jika digabungkan. Namun, penggunaan kekuatan yang berlebihan menyebabkan kehancurannya dan mengarah pada reaksi balik masyarakat internasional, ”katanya.

 “Presiden Trump, saya pikir, telah melakukan kesalahan besar, seperti yang telah ditunjukkan oleh Richard Haass. Dan kesalahan itu adalah bahwa ia telah mencoba menggunakan kekuatan militer Amerika serta kekuatan ekonomi Amerika untuk memaksa masyarakat internasional lain menerimanya. Dan itu telah menciptakan serangan balik di antara sekutu AS, serangan balik di Eropa, serangan balik di tempat lain. Jadi, pendekatan America First sebenarnya telah menciptakan reaksi ini dan semua orang mengharapkannya, ”tambahnya.

Zarif juga mencatat bahwa AS telah menghadapi kecaman global atas kegagalan administrasi Trump untuk menghormati perjanjian internasional seperti kesepakatan nuklir Iran 2015, yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA).

“AS di bawah Presiden Trump percaya bahwa mereka tidak perlu menghormati hukum internasional karena … terlalu percaya pada kekuatannya,” katanya. (ARN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: