Artikel

Inilah Tragedi Yaman Yang Disembunyikan Dunia

Yaman, ARRAHMAHNEWS.COM Sebuah artikel yang cukup menarik menjelaskan bagaimana tragedi Yaman yang disembunyiakan oleh barat. Artikel yang ditulis oleh Luis Rodolfo Cabrera Juárez.

Sekitar dua tahun lalu, ketika saya mulai menjelajahi jejaring sosial, di Facebook saya menemukan halaman Yaman dari Mrs. Marcela de Witt, dan melaluinya saya mengetahui tentang krisis kemanusiaan sangat serius yang dialami oleh orang-orang Yaman, yang (krisis ini) seolah tenggelam dalam perang saudara disana.

Sejak dimulai pada tahun 2015, melalui sarana informasi alternatif tertentu di Internet, saya telah mengikuti konflik militer ini, keberhasilan perlawanan tentara Yaman, yang bersekutu dengan gerakan Ansaralllah, adalah nyata.

BACA JUGA:

Namun, dalam statistik militer yang dingin ini, tragedi kemanusiaan yang ditimbulkan oleh perang, apapun pembenarannya, tidak terlalu terlihat.

Jul 6, 2022

Seorang ayah gendong anaknya

Sungguh, saya merasa ngeri dengan data dan gambar yang dibagikan oleh Mrs. de Witt, dan saya bertanya-tanya mengapa situasi (mengerikan) seperti itu disembunyikan secara sistematis oleh sebagian besar media massa di seluruh dunia.

Didorong oleh kekhawatiran ini, saya meneliti banyak situs web, dan menyimpulkan adanya beberapa faktor politik dan ekonomi yang terlibat dalam perang di Yaman.

Faktor-faktor inilah yang mendorong monarki Arab campur tangan dalam perang saudara di negara ini, dengan mendukung pemerintah yang digulingkan, yang terkait dengan kepentingan mereka. Sebuah proyek, yang gagal melawan sikap berani dan teguh rakyat Yaman dalam mempertahankan kedaulatan mereka.

Menghadapi situasi ini, rezim genosida Saudi, didukung oleh Uni Emirat Arab, memilih untuk menciptakan blokade ekonomi total wilayah yang dikendalikan oleh perlawanan Yaman, yang telah menyebabkan tragedi kemanusiaan terburuk hari ini.

Untuk ribuan kematian warga sipil yang disebabkan oleh pemboman kriminal kota dan desa, ada tambahan yang disebabkan oleh kelaparan, penyakit dan perampasan lain yang menyasar para syahid Yaman ini, dalam apa yang merupakan kejahatan perang, yang mengarah ke genosida.

BACA JUGA:

Jelaslah bahwa kekuatan ekonomi sangat besar dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah mesin yang tidak dapat direm oleh intervensi pemerintah Barat (yaitu Amerika Serikat dan Eropa) untuk menghentikan genosida rakyat Yaman.

Menyebut masalah ini saja dapat menyebabkan penarikan aset ekonomi negara-negara Arab ini dari negara-negara Barat yang “demokratis” tersebut, menyebabkan ekonomi mereka runtuh. Mohamed bin Salman yang terkenal itu telah mengancam pemerintah AS dengan langkah seperti itu, pada satu kesempatan dan lainnya.

Di sisi lain, Arab Saudi adalah pembeli utama senjata AS dan Inggris, yang digunakan untuk membunuh rakyat Yaman, dan ini adalah faktor kuat lain yang melumpuhkan intervensi global terhadap perang genosida ini.

Hal sama dapat dikatakan tentang negara-negara kuat lainnya, seperti Rusia, China, India, Jepang, dll., yang kepentingan ekonominya terkait dengan aliansi sementara dengan monarki Arab di Teluk, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Iran dan negara-negara Muslim lainnya yang kurang kuat, adalah pengecualian yang terhormat.

Mengingat keseriusan situasi, seharusnya seseorang membayangkan akan melihat reaksi besar-besaran dari masyarakat global menuntut diakhirinya blokade tidak manusiawi, yang baru-baru ini dilonggarkan melalui gencatan senjata dua bulan, meski sering dilanggar oleh militer Saudi. Namun, (anehnya), ini tidak terjadi, dan ketidakpedulian global berkuasa sepenuhnya.

Saya ingin mendalami mekanisme penyembunyian informasi, yang tentu tidak eksklusif hanya untuk krisis Yaman saja.

Pertama-tama, kita harus ingat bahwa media massa dunia dimiliki oleh sekelompok kecil oligarki, yang secara sistematis menggunakannya untuk mempromosikan kepentingan ekonomi dan politik global mereka.

BACA JUGA:

Bukan rahasia lagi bagi siapa pun bahwa apa yang disebut “pemerintahan demokratis” hanyalah fasad dari kekuasaan yang dipegang oleh oligarki dunia, yang diintegrasikan ke dalam “imperialisme global”. Pemerintah ini hampir selalu dipilih melalui kampanye dengan iklan yang memiliki anggaran besar dan dibiayai oleh karakter gelap yang hampir tidak ada yang berani membicarakannya.

Media massa secara praktis mengerahkan kekuatan absolut dalam kesadaran kolektif umat manusia secara keseluruhan, dan telah membentuk konstruksi masyarakat yang sangat konsumtif dan hedonistik, di mana penderitaan dihindari dengan cara apapun. Dan untuk melupakannya, ada sumber pelarian besar-besaran seperti hiburan, agama, kejahatan… dan banyak lagi.

Tidak mengherankan bahwa kebanyakan orang menghindari melihat informasi verbal, dan terutama grafis, tentang situasi penderitaan yang ekstrim dari manusia lain, karena ini berarti merasakan juga penderitaan itu (dalam hal belas kasih). Dan jika suatu saat informasi tersebut entah bagaimana sampai ke mereka, mekanisme pertahanan “penolakan” dimulai. Yaitu dengan cara mendiskualifikasi informasi yang diterima itu sebagai salah.

Namun, media-media yang sama ini tidak ragu untuk menyebarkan informasi tentang situasi tragis, dengan cara yang benar-benar tidak wajar dan menyimpang, ketika itu sesuai dengan kepentingan oligarki, seperti yang terjadi setelah dimulainya perang di Ukraina. Dan penurunan drastis liputan media tentang krisis ini terbukti, karena itu jelas tidak lagi sesuai dengan kepentingan pribadi di sekitarnya.

Perlu dicatat bahwa badan-badan intelijen dari semua pemerintah secara aktif terlibat dalam pengelolaan media. Yang jelas di antaranya adalah CIA AS yang keji, dengan segala jenis sumber dayanya yang luas.

Dengan cara ini, struktur yang sangat kompleks dan efisien telah dibangun untuk mengendalikan mentalitas masyarakat global, yang kekuatannya hanya ditantang oleh akses universal ke Internet, terutama jejaring sosial, yang merupakan sarana berharga untuk informasi dan pertukaran ideologi untuk menjadi tonggak sejarah. Dimana ini hampir sebanding dengan penemuan mesin cetak lima abad lalu.

Tapi reaksi dari kekuatan-kekuatan besar segera muncul, dan kebebasan berekspresi sudah dibatasi melalui jejaring sosial, terutama di Facebook, yang kebetulan terbesar di dunia. Saya sendiri beberapa kali mengalami represi seperti itu, dengan mengalami pemblokiran sementara.

Yang terbaru diprovokasi justru dengan memposting foto eksplisit anak-anak Yaman yang tubuhnya tercerai berai oleh pemboman pesawat Saudi. Dimana postingan ini dianggap melanggar aturan Facebook tentang publikasi “ketelanjangan dan aktivitas seksual”.

Tentu saja, kita tenggelam dalam perang informasi global, di mana taktik dan strategi tempur diterapkan, mirip dengan konflik militer. Dan dengan cara yang sama, keberanian dan ketahanan diperlukan di dalamnya untuk menahan serangan musuh yang jauh lebih kuat, yang menggunakan sumber daya yang sangat besar untuk membungkam hati nurani umat manusia.

Membangunkan mereka (umat manusia) dari tidurnya adalah tugas yang sangat sulit, tetapi bukan tidak mungkin, seperti yang ditunjukkan dalam kasus Afrika Selatan, dan Palestina saat ini, yang masalah ini mendapatkan momentum secara global, melalui gerakan BDS.

Saya adalah warga dari negara yang sangat kecil, Guatemala, yang telah puluhan tahun menjadi sasaran kekuatan oligarki yang didukung oleh imperialisme AS, yang bahkan memprovokasi perang genosida terhadap mayoritas penduduk asli.

Untuk alasan itu, saya mengalami sendiri penderitaan semua orang tertindas di dunia, seperti yang ditunjukkan oleh Komandan Ernesto “Che” Guevara. Dan saya berharap untuk melihat fajar bagi orang-orang Yaman, dan akhir dari mimpi buruk ini.

Sementara itu, saya akan terus melakukan “pekerjaan kecil” saya, dengan mempublikasikan tragedi ini, tetapi pada saat yang sama (juga mempublikasikan) perjuangan heroik rakyat Yaman untuk kedaulatan dan kebebasan mereka. (ARN)

Comments
To Top
%d blogger menyukai ini: